Keuangan.id – 06 April 2026 | Onih Suryati, seorang ibu rumah tangga dari Yogyakarta, berhasil mengubah limbah rumah tangga menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan berkat dukungan program PNM Mekaar dan jaringan layanan BRILink. Sebelum bergabung dengan program tersebut, Onih mengumpulkan sampah organik dan anorganik secara mandiri, namun tidak memiliki sarana untuk memprosesnya menjadi produk bernilai jual.
Melalui pendampingan PNM (Pembiayaan Mikro Nasional) Mekaar, Onih memperoleh modal mikro sebesar Rp5.000.000 serta pelatihan tentang teknik pengolahan limbah menjadi kompos, bahan bakar biomassa, dan barang daur ulang lainnya. Selanjutnya, jaringan BRILink BRI Group menyediakan akses layanan keuangan, pemasaran, serta platform digital untuk memantau penjualan.
Berikut langkah‑langkah yang ditempuh Onih dalam mengubah limbah menjadi cuan:
- Pengumpulan limbah: Mengumpulkan sampah organik (sisa sayur, buah) dan anorganik (plastik, kertas) dari lingkungan sekitar.
- Pemilahan: Memisahkan bahan berdasarkan jenis dan tingkat kebersihan.
- Pengolahan: Menggunakan mesin komposter skala mikro untuk menghasilkan kompos, serta mesin press sederhana untuk mengubah plastik menjadi pelet.
- Pemasaran: Menjual kompos ke petani lokal dan pelet plastik ke produsen barang kerajinan melalui aplikasi BRILink.
- Reinvestasi: Menggunakan pendapatan untuk memperluas kapasitas produksi dan melatih warga lain.
Hasilnya, dalam kurun waktu enam bulan Onih mencatat peningkatan pendapatan rata‑rata sebesar 250% dibandingkan sebelum bergabung dengan program. Berikut data ringkas yang menunjukkan dampak usaha Onih:
| Jenis Produk | Volume Produksi (kg/bulan) | Pendapatan (Rp) |
|---|---|---|
| Kompos organik | 350 | 1.750.000 |
| Pelet plastik | 120 | 2.400.000 |
| Kerajinan daur ulang | 80 | 1.200.000 |
Keberhasilan Onih tidak hanya meningkatkan kesejahteraan keluarganya, tetapi juga memberikan contoh konkret bagi komunitas setempat tentang potensi ekonomi sirkular. PNM Mekaar dan BRILink berencana memperluas model pendampingan ini ke desa‑desa lain, dengan target menciptakan 10.000 lapangan kerja mikro berbasis pengolahan limbah dalam dua tahun ke depan.
