Keuangan.id – 30 Maret 2026 | Jordi Amat menegaskan apresiasinya terhadap filosofi pelatih asal Kanada, John Herdman, yang baru saja memimpin Timnas Indonesia meraih kemenangan telak 4-0 atas Saint Kitts and Nevis dalam laga pembuka FIFA Series 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dalam wawancara singkat setelah pertandingan, bek veteran asal Spanyol itu menyebutkan bahwa ia merasa sangat cocok dengan ide-ide Herdan, terutama karena terdapat banyak kesamaan dengan pendekatan yang diterapkan di klubnya, Persija Jakarta.
Strategi Herdman dan Resonansi di Persija
Menurut Amat, Herdman menekankan pentingnya “membangun banyak koneksi antarlini” serta mengedepankan permainan yang “bagus” dan terorganisir. “Saya sangat menyukai ide‑idenya, kami memiliki banyak kesamaan dalam ide kami di Persija. Kami mencoba bermain sepak bola yang bagus, dan membangun banyak koneksi antarlini,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan bagaimana taktik Herdman—menempatkan pemain di posisi optimal, memperkuat transisi cepat, dan menekankan kreativitas dalam kerangka disiplin—sering kali mirip dengan pola permainan yang dipraktekkan oleh Persija dalam beberapa musim terakhir.
Penampilan Amat di Laga Debut
Dalam pertandingan melawan Saint Kitts and Nevis, Amat berperan sebagai gelandang bertahan, mengatur alur bola dan membantu menahan serangan lawan. Meskipun pada fase awal ia sempat kewalahan menghadapi tekanan tiga sampai empat pemain lawan, perubahan taktis yang dilakukan Herdman—memasukkan Calvin Verdonk sebagai gelandang bertahan tambahan—membuat lini tengah menjadi lebih solid dan cair. Amat kemudian berhasil mengalirkan beberapa umpan ke depan, termasuk umpan terobosan yang berujung pada gol pertama tim.
Perspektif Pengamat
Pengamat senior asal Malang, Gusnul Yakin, menilai bahwa performa Amat pada babak pertama belum optimal karena kurangnya dukungan struktural. Ia menambahkan, “Setelah John Herdman menarik Calvin Verdonk ke tengah, lini ini makin solid dan cair, sehingga Jordi Amat berani lebih maju dan memberi peluang bagi serangan.” Pendapat ini sejalan dengan komentar dari mantan gelandang Timnas Indonesia, Alexander Saununu, yang memuji keputusan Herdman menempatkan Verdonk dan Ole Romeny di posisi kunci untuk menyeimbangkan lini tengah.
Kesamaan Taktik antara Timnas dan Persija
- Penekanan pada koneksi antarlini: Baik Herdman maupun pelatih Persija menuntut pemain bergerak bersamaan, menciptakan pola passing yang dinamis.
- Penggunaan pemain serba guna: Jordi Amat, Rizky Ridho, dan Dony Tri Pamungkas sering dipindahkan posisi untuk menyesuaikan taktik, mirip dengan rotasi pemain di Persija.
- Fokus pada transisi cepat: Kedua tim menekankan serangan balik setelah merebut bola, memanfaatkan kecepatan sayap kiri dan kanan.
Masalah yang Masih Perlu Diperbaiki
Meskipun hasil 4-0 mengindikasikan dominasi, ada beberapa catatan kritis. Amat sendiri mengakui bahwa adaptasi terhadap identitas baru dan staf baru tidak mudah, dan beberapa menit pertama pertandingan terasa kurang menggigit. Gusnul Yakin juga menyoroti bahwa Kevin Diks, yang dipindahkan ke posisi sayap kanan, belum menunjukkan performa maksimal karena faktor kelelahan dan aklimatisasi. Hal‑hal tersebut menjadi fokus perbaikan bagi Herdman menjelang laga berikutnya, termasuk pertandingan melawan Bulgaria.
Harapan Kedepan
Dengan dukungan penuh dari pemain senior seperti Amat, serta kejelian taktikal Herdman, Timnas Indonesia diharapkan dapat melanjutkan tren positif ini. Amat menutup perbincangan dengan keyakinan, “Kami sangat menikmati proses adaptasi ini, dan saya percaya filosofi yang kami bagi dengan John Herdman akan membawa tim ke level yang lebih tinggi, tidak hanya di level internasional tetapi juga dalam memperkuat identitas permainan yang kami praktikkan di Persija.”
Jika tren ini berlanjut, Timnas Indonesia tidak hanya akan menjadi tim yang solid secara struktural, tetapi juga mampu menampilkan sepak bola atraktif yang menggabungkan disiplin, kreativitas, dan koneksi antarlini—ciri khas yang telah lama diidamkan oleh pendukung sepak bola Tanah Air.
