Keuangan.id – 12 Maret 2026 | Jakarta – Isu label “Anak Papa” yang terus dilemparkan ke Persija Jakarta kembali menjadi sorotan publik usai manajemen klub memberikan jawaban tegas. Tuduhan tersebut mencuat setelah kehadiran Ferry Paulus, mantan bos Macan Kemayoran yang kini menjabat sebagai Direktur Utama I.League, menimbulkan spekulasi mengenai keterkaitan politik dan kepemilikan klub. Namun, para eksekutif Persija menegaskan bahwa tudingan itu hanyalah rumor tanpa bukti konkret.
Penolakan Dari Direktur Utama Mohamad Prapanca
Direktur Utama Persija, Mohamad Prapanca, menanggapi pertanyaan wartawan dengan nada santai namun tajam. “Yang mana nih? Yang Anak Papa atau tadi kan APBD FC udah dijelasin,” ujarnya, menandakan kebingungan atas narasi yang berulang setiap musim. Prapanca menambahkan, “Loh ya emang kita anaknya bapak kita masing-masing gimana sih? Dari siapa sih yang ngomong? Tahu gitu kenapa sih?” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pihak manajemen tidak menerima tuduhan tanpa dasar yang jelas.
Bambang Pamungkas: “Sudah Basi, Saya Tak Mau Jawab”
Legenda Timnas Indonesia, Bambang Pamungkas, yang menjabat sebagai Direktur Olahraga Persija, juga menolak menghabiskan energi untuk membahas isu tersebut. “Saya enggak mau jawab masalah itu ya. Karena rasanya sebutan ‘Anak Papa’ itu sejak saya masih main ya. Jadi udah terlalu expired untuk dibahas,” tegas Bepe. Ia menilai bahwa istilah tersebut sudah menjadi barang lama yang muncul kembali secara periodik, namun tidak lagi relevan bagi performa tim.
Latar Belakang Tuduhan dan Keterkaitan Dengan Ferry Paulus
Tuduhan “Anak Papa” berawal dari spekulasi bahwa Persija mendapatkan dukungan khusus dari pemerintah daerah melalui APBD FC, sebuah entitas yang dikaitkan dengan sponsor BUMD Jakarta. Keberadaan Ferry Paulus sebagai Direktur Utama I.League menambah bumbu politik, karena beberapa netizen menafsirkan bahwa posisi strategisnya dapat mempengaruhi kebijakan liga dan peluang klub. Namun, tidak ada dokumen resmi atau pernyataan resmi yang menguatkan klaim tersebut.
Fokus Persija di BRI Super League 2025/26
Sementara itu, Persija tetap menitikberatkan usaha pada kompetisi utama, BRI Super League 2025/26. Tim Macan Kemayoran saat ini berada di posisi ketiga klasemen, terpaut enam poin dari pemuncak Persib Bandung dan dua poin dari Borneo FC yang menempati posisi kedua. Manajemen menargetkan pengembalian trofi juara, dengan strategi transfer yang agresif di bursa pertengahan musim. Meski ada kritik mengenai jumlah pemain baru yang belum banyak bermain, pelatih menegaskan bahwa rotasi squad diperlukan untuk menjaga kebugaran menjelang fase akhir liga.
Reaksi Jakmania dan Media Sosial
Para supporter Persija, yang dikenal dengan sebutan Jakmania, menanggapi respons manajemen dengan campuran emosi. Sebagian mengapresiasi sikap tegas Prapanca dan Bambang, sementara yang lain tetap menuntut bukti konkret terkait dugaan intervensi politik. Di Twitter, tagar #AnakPapaPersija dan #JakmaniaBersuara menjadi trending lokal, menandakan tingkat kepedulian publik terhadap isu integritas sepak bola nasional.
Implikasi Jangka Panjang bagi Persija
Jika tuduhan tersebut tidak terbukti, Persija dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat citra klub sebagai institusi yang berpegang pada sportivitas dan profesionalisme. Di sisi lain, kegagalan mengatasi persepsi negatif dapat menurunkan kepercayaan sponsor dan mengganggu stabilitas finansial, terutama mengingat ketergantungan pada dukungan BUMD dan sponsor publik.
Secara keseluruhan, respons tajam dari manajemen Persija menegaskan bahwa label “Anak Papa” tidak memiliki dasar kuat. Fokus utama tetap pada performa di lapangan, dengan target menggapai posisi puncak klasemen dan mengangkat trofi BRI Super League. Jakmania diharapkan dapat menyalurkan dukungan secara konstruktif, menolak provokasi yang tidak berdasar, dan bersama klub melaju menuju musim yang lebih gemilang.
