Keuangan.id – 21 April 2026 | Untuk ketiga kalinya berturut-turut, timnas Italia gagal melaju ke putaran final Piala Dunia. Kegagalan ini menandai jeda panjang sejak masa kejayaan Azzurri pada Piala Dunia 1938, ketika Italia merebut trofi pertama mereka di Prancis dan sekaligus menandai kehadiran Hindia Belanda sebagai tim Asia pertama di turnamen tersebut.
Latar Belakang Historis: Kejayaan 1938 dan Penurunan Bertahap
Piala Dunia 1938 menjadi saksi kebangkitan Italia di panggung internasional. Di bawah asuhan Vittorio Pozzo, Azzurri mengalahkan Hungaria di final dengan skor 4‑2, menambah satu gelar juara dunia setelah kemenangan di 1934. Keberhasilan itu tidak hanya memperkuat reputasi Italia, tetapi juga membuka jalan bagi negara-negara non-Eropa, termasuk Hindia Belanda, yang berpartisipasi untuk pertama kalinya di turnamen tersebut.
Setelah era keemasan tersebut, Italia mengalami pasang surut. Pada era 1970-an hingga 2000-an, timnas kembali menorehkan prestasi, termasuk gelar juara dunia 2006 di Jerman. Namun, dalam dekade terakhir, performa Azzurri menurun tajam, berujung pada kegagalan lolos ke Piala Dunia 2018 di Rusia dan 2022 di Qatar.
Kegagalan Kualifikasi 2026: Analisis Teknis dan Manajerial
Piala Dunia 2026 akan menjadi ajang pertama yang diikuti oleh 48 tim, memberi peluang lebih luas bagi negara-negara baru. Namun, fase kualifikasi Eropa tetap ketat. Italia, yang dikelola oleh pelatih baru, gagal mengamankan tiket setelah berakhir di posisi kedua grup kualifikasi, kalah tipis dari Swedia dan menelan kekalahan penting melawan Albania.
Beberapa faktor menjadi penyebab utama kegagalan ini:
- Kualitas Skuat yang Menurun: Generasi pemain muda belum mampu mengisi kekosongan setelah pensiunnya legenda seperti Gianluigi Buffon dan Leonardo Bonucci.
- Taktik yang Terlalu Konservatif: Sistem pertahanan yang kaku membuat tim kesulitan menciptakan peluang serangan yang efektif.
- Kurangnya Konsistensi dalam Penyerangan: Penyerang utama, Ciro Immobile, mengalami penurunan produktivitas dan tidak didukung oleh opsi kreatif yang memadai.
Bagaimana Kinerja Liga Italia Mempengaruhi Nasional
Sementara timnas berjuang, klub-klub Serie A terus menunjukkan performa yang kompetitif. Pada 20 April 2026, Juventus berhasil mengalahkan Bologna 2‑0 di Allianz Stadium, memperkuat posisi mereka di empat besar klasemen dengan 63 poin. Gol pertama datang dari Jonathan David hanya dua menit setelah peluit, diikuti oleh Khephren Thuram-Ulien pada menit ke‑57.
Kemenangan ini tidak hanya menambah poin, tetapi juga menegaskan bahwa kompetisi domestik Italia tetap berkelas. Namun, keberhasilan klub tidak selalu berimbas pada kualitas skuad nasional. Sejumlah pemain Juventus, termasuk Manuel Locatelli, belum mampu menyalurkan pengalaman klub ke level internasional secara optimal.
Reaksi Publik dan Harapan Kedepan
Keputusan kegagalan kualifikasi memicu protes di media sosial, dengan banyak penggemar menuntut reformasi struktural dalam federasi sepakbola Italia (FIGC). Beberapa analis berpendapat bahwa investasi pada akademi muda dan pembaruan taktik harus menjadi prioritas utama.
Meski kekecewaan melanda, harapan masih terbuka. Turnamen Piala Dunia 2030, yang diproyeksikan akan diselenggarakan bersama Spanyol, Portugal, dan Maroko, menjadi peluang bagi Italia untuk bangkit kembali. Pelatih baru diharapkan membawa filosofi yang lebih agresif dan mengintegrasikan talenta muda yang sedang berkembang di Serie A.
Secara keseluruhan, kegagalan Italia tidak di Piala Dunia menandai babak kritis dalam sejarah sepakbola Italia. Dari kejayaan 1938 hingga krisis modern, perjalanan Azzurri mencerminkan dinamika sepakbola dunia yang selalu berubah.
