Keuangan.id – 13 Mei 2026 | Israel telah menetapkan garis kuning di Lebanon, sebuah langkah yang diambil untuk menghadapi serangan-serangan drone yang dilancarkan oleh Hizbullah, sekutu terkuat Iran di wilayah tersebut. Langkah ini diambil setelah serangan-serangan drone yang dilancarkan oleh Hizbullah meningkat, sehingga mempersulit upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Peluang damai antara AS dan Iran semakin menyempit akibat perang drone di Lebanon. Hizbullah telah menggunakan drone kamikaze First Person View (FPV) yang murah dan mudah dirakit untuk menghantam Israel. Drone FPV dapat menghindari teknologi pengacau canggih Israel dan menargetkan pasukannya yang menduduki Lebanon selatan.
Israel membalas dengan setidaknya dua serangan drone FPV mematikan terhadap Hizbullah pada April. Langkah ini diambil untuk menghadapi ancaman drone yang dilancarkan oleh Hizbullah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui bahwa drone yang diluncurkan Hizbullah merupakan masalah.
Teheran dan mediator Pakistan mengatakan setiap perjanjian perdamaian AS-Iran harus mencakup penghentian serangan Israel di Lebanon. Tujuannya adalah untuk mencegah eskalasi di sana yang dapat memicu kembali perang Iran yang lebih luas. Perundingan langsung antara pemerintah Lebanon dan Israel yang dimediasi AS dijadwalkan pada Kamis dan Jumat, tetapi kemajuannya lambat.
Israel bersikeras agar Lebanon melucuti senjata Hizbullah. Sementara itu, kepala hubungan media Hizbullah, Youssef el-Zein, mengatakan pihaknya menilai korban yang terus berjatuhan di pihak pasukan Israel dapat memaksa mereka untuk mundur dengan lebih efektif daripada melalui negosiasi dengan Israel.
Pasukan Israel yang telah menyerbu Lebanon Selatan dalam konflik saat ini justru menjadi “peluang, bukan ancaman,” karena mereka lebih mudah menjadi sasaran, ujarnya. "Kita tahu keunggulan musuh, tetapi kita juga tahu titik-titik kelemahan mereka. Kita memanfaatkan titik-titik kelemahan tersebut untuk menciptakan keseimbangan," lanjut Zein.
Dalam beberapa minggu terakhir, Hizbullah telah menggunakan drone kamikaze First Person View (FPV) yang murah dan mudah dirakit untuk menghantam Israel. Dikendalikan dengan kabel serat optik, drone FPV dapat menghindari teknologi pengacau canggih Israel, kemudian menargetkan pasukannya yang menduduki Lebanon selatan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui bahwa drone yang diluncurkan Hizbullah merupakan masalah. "Beberapa minggu yang lalu, saya memerintahkan pembentukan proyek khusus untuk menggagalkan ancaman drone … Ini akan memakan waktu, tetapi kami sedang mengerjakannya," katanya pada 3 Mei.
Militer Israel melaporkan hampir setiap hari terjadi serangan drone berisi bahan peledak terhadap pasukannya di Lebanon selatan. Radio Angkatan Darat Israel mengatakan serangan tersebut telah melukai hingga 40 tentara.
Dalam kesimpulan, situasi di Lebanon semakin memanas akibat serangan-serangan drone yang dilancarkan oleh Hizbullah. Israel telah menetapkan garis kuning di Lebanon dan terapkan kebijakan yang sama seperti di Jalur Gaza. Perundingan perdamaian antara AS dan Iran semakin terhambat akibat perang drone di Lebanon.
