Keuangan.id – 10 April 2026 | Teheran mengeluarkan peringatan keras pada Rabu, 8 April 2026, bahwa Amerika Serikat harus memilih antara menegakkan gencatan senjata yang baru saja disepakati atau melanjutkan konflik yang dipicu oleh serangan Israel ke Lebanon. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan lewat platform X bahwa “AS tidak dapat memiliki keduanya”; ia menuntut Washington menghentikan dukungan militer kepada Israel atau siap menghadapi eskalasi perang yang lebih luas.
Ruang Lingkup Gencatan Senjata
Gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran dirancang untuk meredakan ketegangan yang memuncak sejak akhir Februari, ketika serangkaian serangan balasan terjadi di wilayah Teluk. Sepuluh syarat utama mencakup penghentian serangan Israel di Lebanon, pembebasan tahanan politik, serta pengawasan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, aksi Israel pada hari yang sama dengan penandatanganan perjanjian menodai harapan damai.
Serangan Israel ke Lebanon
Israel melancarkan operasi udara terbesar sejak konflik terbaru, menargetkan lebih dari 100 lokasi di Beirut, Lembah Beqaa, dan selatan Lebanon dalam rentang sepuluh menit. Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, melaporkan setidaknya 254 korban jiwa, termasuk 92 orang di ibu kota Beirut. Serangan tersebut menewaskan warga sipil, menghancurkan infrastruktur, dan memicu evakuasi massal di daerah yang terdampak.
Reaksi Iran
Iran menanggapi serangan tersebut dengan ancaman tegas: jika Israel tidak menghentikan serangan, Teheran akan menarik diri dari perjanjian gencatan senjata. Kantor berita semi‑resmi Tasnim mengutip sumber dalam pemerintah Iran yang menyatakan bahwa “Iran akan keluar dari perjanjian jika rezim Israel terus melanggar gencatan senjata dengan menyerang Lebanon.” Pernyataan ini didukung oleh Saeed Khatibzadeh, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, yang menegaskan bahwa Lebanon termasuk dalam cakupan kesepakatan dua minggu, meski AS dan Israel membantah hal tersebut.
Perspektif Amerika Serikat
Presiden Donald Trump, yang sebelumnya menyebarkan berita positif tentang gencatan senjata melalui akun media sosialnya, kini menghadapi dilema. Pemerintah AS dituduh membiarkan Israel melanjutkan operasi militer, sementara Iran menuduh Amerika menyalahi perjanjian dengan tidak mengintervensi serangan tersebut. Selain itu, Trump menuduh Iran mengenakan biaya tambahan pada kapal yang melintasi Selat Hormuz, menambah tekanan pada hubungan ekonomi kedua negara.
Negosiasi Lanjutan di Pakistan
Upaya diplomasi belum berhenti. Pada Jumat, 12 April 2026, perwakilan kedua negara dijadwalkan bertemu di Pakistan untuk membahas kelanjutan gencatan senjata dan mekanisme pemantauan. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menekankan pentingnya dialog agar tidak terjadi kegagalan total yang dapat memicu perang regional. Sementara itu, Hizbullah mengklaim tetap mematuhi gencatan senjata, meski mengaku meluncurkan serangan balasan terhadap posisi Israel yang dianggap melanggar perjanjian.
Dampak Regional
Ketegangan di Lebanon berpotensi memicu krisis kemanusiaan lebih luas. Pengungsian massal, kerusakan infrastruktur medis, serta gangguan pasokan listrik dan transportasi memperparah situasi. Selain itu, ketidakstabilan di Selat Hormuz mengancam jalur minyak global, yang dapat menimbulkan fluktuasi harga energi internasional.
Jika Amerika Serikat tidak mengambil langkah tegas untuk menahan Israel, Tehran menyatakan kesiapan melanjutkan aksi militer melalui jaringan proksi di wilayah tersebut. Sebaliknya, penarikan diri Iran dari gencatan senjata dapat membuka kembali front konvensional antara kedua negara, meningkatkan risiko konfrontasi militer langsung di wilayah Teluk.
Dengan tekanan internasional yang semakin kuat, kedua belah pihak tampak berada di persimpangan pilihan kritis: menegakkan komitmen gencatan senjata atau melanjutkan perang yang melibatkan pihak ketiga. Keputusan yang diambil dalam beberapa hari mendatang akan menentukan arah geopolitik Timur Tengah selama beberapa bulan ke depan.
Kesimpulannya, ultimatum Iran menegaskan bahwa keberlangsungan gencatan senjata sangat bergantung pada aksi konkret Washington terhadap Israel. Tanpa perubahan sikap, ancaman eskalasi konflik melalui jalur militer atau ekonomi dapat menjadi kenyataan, menambah beban bagi rakyat Lebanon dan meningkatkan ketegangan global.
