Keuangan.id – 10 Mei 2026 | Pada akhir pekan ini, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terus meningkat. Otoritas dan media Iran menekankan pentingnya kendali atas Selat Hormuz, yang mereka anggap sebagai "setara dengan bom atom".
Mengutip penasihat senior mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Mohammad Mokhber, mengatakan bahwa Iran telah mengabaikan "berkah" strategis dari selat tersebut. "Pada kenyataannya, kemampuannya setara dengan bom atom ," ujar Mokhber pada Jumat. "Ketika Anda memiliki kemampuan yang dapat memengaruhi seluruh ekonomi global hanya dengan satu keputusan, itu adalah kemampuan yang sangat besar," tambahnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa Iran masih meninjau proposal dari Washington meski tenggat waktu yang diharapkan Presiden AS Donald Trump telah lewat. "Kami mengerjakan pekerjaan kami sendiri. Kami tidak memperhatikan tenggat waktu atau jadwal," kata Baghaei.
Vakil Presiden Pertama Iran saat ini, Mohammad Reza Aref, mengatakan bahwa kendali Teheran atas Selat Hormuz dapat menjadi alat untuk menghadapi sanksi AS, termasuk pembatasan yang menekan ekspor minyak Iran. "Kita tentu tidak akan lagi menghadapi sesuatu yang disebut sanksi. Dengan perilaku terbaru Trump dan musuh-musuhnya, hak dan pandangan kita terhadap selat ini telah diperkuat. Saya rasa kita tidak akan menghadapi masalah serius lagi," ujarnya.
Mokhber menegaskan bahwa Iran tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz yang disebut diperoleh melalui perjuangan perang. Menurut dia, Teheran juga akan berupaya mengubah rezim pengelolaan selat tersebut melalui jalur internasional maupun regulasi domestik yang disahkan parlemen.
Perangkat lunak pemerintah Iran menarik persamaan kondisi yang terjadi saat ini dengan umat Islam di masa lalu, tepatnya pada kekalahan Pertempuran Uhud di dekat Madinah sekitar 1.400 tahun yang lalu. Pada perang tersebut, para pemanah meninggalkan celah strategis dan melanggar instruksi yang diberikan Nabi Muhammad SAW, yang memungkinkan pasukan kavaleri lawan menyerang dari belakang.
Seorang pembawa acara di saluran Ofogh, Hossein Hosseini, mengatakan bahwa Selat Hormuz adalah celah Uhud-nya Iran, yang jika ditinggalkan, dapat membuka jalan bagi kekalahannya.
