Keuangan.id – 16 Mei 2026 | Iran telah berhasil mengkloning teknologi rudal jelajah Tomahawk milik Amerika Serikat (AS) yang gagal meledak dalam perang AS-Iran beberapa waktu lalu. Hal ini dikarenakan beberapa rudal Tomahawk ditemukan sebagian utuh setelah sistem peledakannya gagal atau terganggu oleh kemampuan perang elektronik Iran.
Teheran menggunakan rudal-rudal tersebut untuk mengembangkan sistem rudalnya sendiri. Menurut kantor berita Mehr, strategi Iran beralih ke memperoleh pengetahuan dari medan perang. Setiap rudal Tomahawk yang mendarat dan tidak meledak adalah buku teks tingkat lanjut bagi para insinyur Iran.
Teknologi Tomahawk
Tomahawk adalah peluru kendali jelajah jarak jauh dalam segala kondisi cuaca dan memiliki kecepatan subsonik. Pertama kali diperkenalkan pada tahun 1970 oleh General Dynamics, peluru kendali ini didesain untuk jarak menengah dan jauh, mampu terbang rendah dan juga dapat diluncurkan dari darat dan bawah air.
Tomahawk berbobot antara 1.192,5 kg sampai 1.440 kg dengan panjang 5,56 – 6,25 meter. Rudal tersebut sanggup mengangkut beban untuk hulu ledak konvensional sampai 500 kg.
Hubungan China-Iran
Hubungan militer dan teknologi antara China dan Iran kembali menjadi sorotan di tengah konflik terbaru di Timur Tengah. Sejumlah laporan intelijen Barat menyebut Beijing terus membantu Iran melalui transfer teknologi pertahanan, intelijen, hingga komponen senjata.
China juga dinilai berhati-hati agar tidak merusak hubungannya dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain yang terdampak serangan rudal Iran dalam konflik saat ini.
Pertemuan BRICS
Pertemuan para diplomat tingkat atas dari negara-negara anggota BRICS di New Delhi, India, berakhir tanpa menghasilkan pernyataan bersama. Ketegangan dan perpecahan tajam antara dua anggota barunya, Iran dan Uni Emirat Arab (UEA), memaksa India selaku tuan rumah hanya merilis pernyataan ketua.
Teheran mendesak kelompok negara berkembang ini untuk mengutuk perang AS-Israel terhadap Iran. Teheran juga menuduh UEA, yang merupakan sekutu AS, terlibat langsung dalam operasi militer yang memusuhi mereka.
Emirat Arab Percepat Pipa Minyak Baru
Emirat Arab percepat pembangunan pipa minyak baru untuk menghindari blokade Selat Hormuz oleh Iran. Selat tersebut merupakan jalur vital yang dilalui oleh seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global dalam kondisi normal.
Serangan-serangan Iran di jalur perairan tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya tiga personel asal India. Bahkan, sebuah kapal berbendera India tenggelam pekan ini, tepat saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi terbang ke Delhi untuk menghadiri pertemuan.
Dalam kunjungan tersebut, Perdana Menteri India Narendra Modi mengecam keras serangan yang menyasar negara Teluk itu. Modi juga menegaskan bahwa India akan terus berupaya untuk membantu mencapai solusi damai di kawasan Timur Tengah.
Hubungan antara Iran dan UEA terus memburuk sejak konflik pecah pada 28 Februari, di mana Iran telah beberapa kali menggempur UEA menggunakan rudal dan drone. Dalam dokumen hasil pertemuan, India selaku mediator mencoba memperhalus situasi dengan menyatakan bahwa ada perbedaan pandangan di antara beberapa anggota mengenai situasi di kawasan Timur Tengah.
Konflik di Timur Tengah semakin kompleks dengan keterlibatan berbagai negara dan aktor. Iran, AS, Israel, dan UEA merupakan beberapa negara yang terlibat dalam konflik ini. Sementara itu, China dan India juga memiliki kepentingan strategis di kawasan ini.
Konflik ini juga berdampak pada keamanan global, terutama dalam hal pasokan minyak dan gas alam cair. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui oleh seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global dalam kondisi normal.
Oleh karena itu, diperlukan upaya diplomatis yang lebih kuat untuk mencapai solusi damai di kawasan Timur Tengah. Negara-negara yang terlibat dalam konflik ini perlu berupaya untuk menemukan titik temu dan menghindari eskalasi konflik yang lebih lanjut.
