Keuangan.id – 15 April 2026 | International Monetary Fund (IMF) baru-baru ini menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun berjalan, mengingat lonjakan harga minyak mentah yang memicu tekanan inflasi dan menurunkan daya beli.
Penurunan proyeksi ini mencerminkan kekhawatiran atas dampak konflik yang berlangsung di Timur Tengah, yang mempersempit pasokan minyak dan menggerakkan harga ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Harga Brent yang pernah melewati US$100 per barrel meningkatkan biaya produksi di hampir semua sektor, dari transportasi hingga manufaktur.
Berikut beberapa implikasi utama yang diidentifikasi IMF:
- Penurunan pertumbuhan global dari 3,2% menjadi 2,9%.
- Risiko inflasi meningkat, khususnya di negara-negara emerging market yang sangat bergantung pada impor energi.
- Kenaikan beban hutang bagi pemerintah yang harus mensubsidi energi atau menambah subsidi bahan bakar.
- Peningkatan ketidakpastian bagi investor asing, yang dapat menunda proyek infrastruktur.
Secara regional, Asia‑Pasifik diperkirakan akan terdampak paling ringan karena diversifikasi sumber energi, sementara wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara menghadapi tekanan paling besar karena ketergantungan tinggi pada ekspor minyak.
IMF menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang responsif, termasuk penyesuaian subsidi energi, reformasi struktural, dan koordinasi kebijakan moneter untuk menahan laju inflasi tanpa mengorbankan pertumbuhan.
