Keuangan.id – 02 Mei 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan hampir 20% pada tahun 2026, menurunkan levelnya ke 6.956,81 poin. Penurunan ini dipicu oleh lemasnya saham-saham berkapitalisasi besar yang biasanya menjadi motor penggerak indeks. Empat saham utama – DSSA, BBCA, BREN, dan BBRI – masuk dalam daftar 10 saham paling menurun (laggards) tahun ini, menambah beban negatif pada pergerakan IHSG.
Daftar Top 10 Laggards IHSG 2026
| Kode Saham | Penurunan | Beban IHSG (poin) |
|---|---|---|
| DSSA | -60,02% | -214,26 |
| BBCA | -27,55% | -210,18 |
| BREN | -54,02% | -193,86 |
| BBRI | -18,31% | -105,19 |
| FILM | -83,59% | -95,27 |
| BRPT | -43,88% | -82,82 |
| TLKM | -19,25% | -70,28 |
| BYAN | -27,39% | -68,57 |
| MORA | -60,91% | -56,97 |
| BMRI | -13,92% | -55,33 |
Saham DSSA mengalami koreksi 60,02% setelah melakukan stock split, sementara BREN turun 54,02% pada harga Rp4.460. Kedua perusahaan termasuk dalam sembilan saham yang ditandai dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) sejak pengumuman BEI pada 2 April 2026, menambah volatilitas.
Di sektor perbankan, BBCA terpuruk 27,55% ke Rp5.850, BBRI turun 18,31% ke Rp2.990, dan BMRI melemah 13,92% ke Rp4.390. Kinerja lemah ini berkontribusi signifikan pada penurunan indeks, masing‑masing menambah beban lebih dari 50 poin.
Faktor Penyumbang Penurunan IHSG
- Sentimen geopolitik: Konflik di Selat Hormuz dan ketegangan di Iran meningkatkan harga minyak, mendorong aliran dana ke aset safe‑haven.
- Keputusan MSCI: Penangguhan penyesuaian komposisi indeks Indonesia memicu arus keluar dana asing sebesar hampir Rp50 triliun selama tahun berjalan.
- Kurs Rupiah: Depresiasi ke kisaran Rp17.300 per dolar menambah tekanan pada nilai saham, terutama bagi investor asing.
- Regulasi pasar: Implementasi aturan HSC, pengetatan kriteria free‑float, dan reformasi lainnya menurunkan likuiditas saham-saham besar.
Investor asing mencatat net sell sebesar Rp49,87 triliun, menurunkan valuasi IHSG menjadi PER 14,69 kali dan PBV 1,9 kali. Analisis BRI Danareksa menyebut rasio PE kini berada di kisaran 11‑12 kali, mendekati level terendah dalam lima tahun terakhir.
Proyeksi IHSG untuk Mei 2026
Senior Market Analyst Mirae Asset, Nafan Aji Gusta, memperkirakan IHSG akan bergerak konsolidatif selama bulan Mei. Ia menekankan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah menjadi faktor penentu utama. Jika Bank Indonesia berhasil menjaga kurs di bawah Rp17.000 per dolar, aliran dana asing berpotensi kembali masuk, meningkatkan momentum pasar.
Di samping itu, evaluasi kembali komposisi indeks MSCI dan hasil market accessibility review dipandang dapat membuka peluang pembelian kembali saham-saham Indonesia di kuartal ketiga atau keempat 2026, asalkan reformasi pasar modal berjalan sesuai jadwal.
Peluang bagi Investor Menengah hingga Jangka Panjang
Dengan valuasi yang kini berada pada level historis rendah, banyak analis menganggap IHSG menawarkan “margin of safety” untuk akumulasi bertahap. Reformasi high‑shareholding concentration, peningkatan free‑float minimal 15%, serta transparansi klasifikasi investor diharapkan meningkatkan kepercayaan institusi global.
Strategi yang disarankan meliputi diversifikasi ke sektor-sektor yang masih memiliki fundamental kuat, seperti energi terbarukan, infrastruktur, dan teknologi finansial, sambil memanfaatkan harga diskon pada saham jumbo yang telah pulih sebagian.
Secara keseluruhan, meskipun IHSG masih berada di zona tekanan, kombinasi perbaikan regulasi, stabilisasi nilai tukar, dan potensi aliran dana asing kembali dapat mengubah tren negatif menjadi peluang investasi yang menarik.
