Keuangan.id – 15 April 2026 | International Energy Agency (IEA) baru‑baru ini mengeluarkan pernyataan penting mengenai kondisi pasar minyak dunia yang kini berada dalam apa yang mereka sebut sebagai “fase anomali”. Dalam fase ini, meskipun permintaan global mengalami penurunan, harga minyak justru terus menguat.
Gangguan utama datang dari wilayah Timur Tengah, khususnya ketegangan yang berkelanjutan di antara negara‑negara produsen minyak. Konflik bersenjata, sanksi ekonomi, serta pemeliharaan infrastruktur produksi menyebabkan penurunan output dan ketidakpastian pasokan. Selain itu, pemeliharaan rutin di kilang‑kilang besar dan penutupan fasilitas produksi sementara di beberapa negara juga memperketat likuiditas pasar.
Berikut rangkuman faktor yang memengaruhi pasar minyak saat ini:
- Permintaan: Turun sekitar 1,2 % YoY pada kuartal terakhir, terutama di sektor transportasi.
- Penawaran: Penurunan produksi OPEC+ diperkirakan mencapai 600 rb bpd karena gangguan operasional.
- Harga: Brent Crude naik 8 % dalam tiga bulan terakhir, menembus level US$ 85 per barel.
IEA memperingatkan bahwa fase anomali ini dapat berlanjut hingga akhir 2024 bila tidak ada penyelesaian damai di wilayah konflik dan bila kebijakan produksi OPEC+ tetap ketat. Dampaknya dirasakan tidak hanya oleh negara‑negara produsen, tetapi juga oleh negara‑negara import seperti Indonesia, yang harus menyesuaikan anggaran energi dan mengantisipasi kenaikan biaya transportasi serta bahan baku industri.
Untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor, pemerintah Indonesia diperkirakan akan memperkuat program energi terbarukan, meningkatkan efisiensi bahan bakar, serta memperluas cadangan strategis. Langkah‑langkah ini diharapkan dapat menahan tekanan inflasi yang dipicu oleh harga minyak yang terus naik.
