Keuangan.id – 23 April 2026 | Mulai hari ini Honda resmi memperkenalkan mobil listrik buatan Tiongkok ke pasar Jepang, menandai langkah strategis perusahaan dalam memperluas jaringan kendaraan listrik (EV) di luar negeri. Kendaraan yang dijual di Jepang merupakan hasil kolaborasi Honda dengan produsen China, dan perusahaan menargetkan penjualan 3.000 unit dalam kurun waktu satu tahun pertama.
Latar Belakang Penjualan EV Honda di Eropa
Beberapa bulan sebelumnya, Honda menghadapi penurunan tajam penjualan e:Ny1, satu‑satunya model listrik yang sempat diluncurkan di Eropa pada pertengahan 2023. Meskipun harga e:Ny1 sempat dipangkas hingga €38.990, unit terjual hanya 105 unit pada tahun 2025. Kendala utama adalah persaingan ketat dari produsen EV asal Eropa dan China yang menawarkan harga lebih kompetitif serta fitur lebih lengkap.
Strategi Honda Mengandalkan Produksi China
Model yang kini masuk Jepang didasarkan pada platform e:N Architecture F yang dikembangkan bersama joint venture Honda‑Dongfeng di China. Mobil ini dilengkapi motor listrik 201 hp, baterai 68,8 kWh, dan jangkauan WLTP sekitar 412 km. Karena produksi dilakukan di pabrik China, biaya manufaktur relatif lebih rendah, memungkinkan Honda menawar harga yang bersaing di pasar Jepang yang sensitif harga.
Strategi ini sejalan dengan tren global Honda yang mengalihkan fokus dari pengembangan EV internal ke kolaborasi dengan mitra China. Keputusan serupa terlihat pada penghentian beberapa proyek EV di Amerika Utara serta pergeseran sumber daya ke model baru seperti Super‑N yang dijadwalkan meluncur di Inggris dan Eropa.
Respon Pasar Jepang dan Target Penjualan
Pasar Jepang menunjukkan minat tinggi terhadap kendaraan listrik berkat kebijakan subsidi pemerintah serta peningkatan infrastruktur pengisian daya. Honda menargetkan 3.000 unit terjual dalam 12 bulan, dengan proyeksi penjualan bulanan rata‑rata sekitar 250 unit. Untuk mencapai target, dealer Honda akan menawarkan paket pembiayaan fleksibel, layanan purna jual khusus EV, serta program tukar tambah bagi pemilik kendaraan konvensional.
- Target tahunan: 3.000 unit
- Rata‑rata bulanan: 250 unit
- Harga perkiraan: setara Rp 800‑900 juta
Jika target tercapai, Honda dapat menutupi sebagian penurunan penjualan di segmen konvensional dan memperkuat posisinya sebagai pemain utama EV di Asia.
Tantangan dari Kompetitor China dan Kebijakan Global
Di samping peluang, Honda harus menghadapi tekanan kompetitif yang semakin kuat. Produsen China seperti BYD dan Geely mencatat lonjakan ekspor NEV (New Energy Vehicles) sebesar 140 % pada Maret 2026, didorong oleh kenaikan harga minyak dunia. Kebijakan proteksionis di negara‑negara utama, termasuk penolakan Ford terhadap masuknya mobil listrik China ke AS, menambah kompleksitas strategi internasional Honda.
Namun, kehadiran mobil listrik China di pasar Jepang dapat menjadi batu loncatan bagi Honda untuk memanfaatkan keunggulan biaya produksi sekaligus menyesuaikan produk dengan selera konsumen Jepang. Pendekatan ini mencerminkan adaptasi perusahaan terhadap realitas pasar yang berubah cepat, di mana harga, fitur, dan jaringan layanan menjadi faktor penentu utama.
Secara keseluruhan, peluncuran Honda mobil listrik China di Jepang tidak hanya menjadi upaya penjualan semata, melainkan juga bagian dari transformasi strategi global Honda dalam menghadapi era elektrifikasi. Keberhasilan penjualan akan bergantung pada eksekusi distribusi, dukungan pemerintah, dan kemampuan perusahaan untuk bersaing melawan merek China yang semakin agresif.
