Keuangan.id – 10 Maret 2026 | Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin, 9 Maret 2026, menyatakan bahwa konflik militer di Timur Tengah dengan Iran kemungkinan akan segera berakhir. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah wawancara dengan anggota parlemen Partai Republik dan kemudian dikutip oleh Reuters, menimbulkan ekspektasi pasar bahwa ketegangan geopolitik yang selama lebih dari seminggu mengancam pasokan energi akan mereda.
Sejak serangan gabungan AS‑Israel terhadap instalasi strategis Iran pada awal pekan, harga Brent sempat menembus US$120 per barel (sekitar Rp2,02 juta) dan West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$115 per barel. Namun, setelah komentar Trump, Brent turun hampir 10 persen menjadi US$93 per barel (sekitar Rp1,56 juta) dan WTI turun menjadi US$86,05 per barel (sekitar Rp1,45 juta). Penurunan ini menandai penurunan terbesar dalam satu hari sejak awal konflik.
Reaksi Pasar Keuangan dan Kebijakan AS
Penurunan harga minyak langsung memicu penguatan indeks saham utama. Di Asia‑Pasifik, indeks FTSE 100 naik 1,3 %, S&P/ASX 200 menguat 1,35 %, sementara indeks Nikkei 225 di Jepang melambung 1,66 %. Di Amerika, S&P 500 mencatat kenaikan 0,83 % hingga 6.795,99 poin dan Nasdaq Composite naik 1,38 % menjadi 22.695,95 poin. Kenaikan tersebut dipicu oleh ekspektasi inflasi yang lebih terkendali serta peredaran energi yang lebih stabil.
Di sisi lain, Gedung Putih mengumumkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan serangkaian langkah untuk menstabilkan pasar energi, termasuk kemungkinan melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia serta melepaskan cadangan strategis minyak Amerika Serikat (Strategic Petroleum Reserve) ke pasar internasional. Trump menyatakan, “Kami memiliki sanksi terhadap beberapa negara. Kami akan mencabut sanksi itu sampai jalur Selat Hormuz kembali terbuka,” tanpa menyebutkan secara spesifik negara yang dimaksud.
Dampak Terhadap Indonesia dan Pasar Regional
Penurunan harga minyak dunia berdampak langsung pada pasar energi Indonesia. Harga BBM di dalam negeri diperkirakan akan mengalami penurunan moderat, membantu menurunkan tekanan inflasi yang selama ini dipengaruhi oleh lonjakan harga energi global. Bank Indonesia mencatat bahwa rupiah menguat 0,37 % terhadap dolar AS, menguat ke level Rp 16.887 per dolar pada pukul 09.13 WIB.
Selain itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tanda pemulihan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1,41 % dan menutup pada 7.440 poin, dipimpin oleh sektor energi dan bahan baku yang mencatatkan kenaikan lebih dari 2 %.
Analisis Pakar
Bob McNally, presiden Rapidan Energy Group, mengingatkan bahwa “dengan terhentinya pasokan minyak dunia sebesar 20 % akibat konflik, dunia mengalami gangguan terbesar yang pernah terjadi.” Ia menilai bahwa meski harga telah turun, pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi kembali jika Iran menutup Selat Hormuz secara total.
Para analis energi di Bloomberg dan CNBC menilai bahwa penurunan harga minyak kemungkinan bersifat sementara, mengingat ketegangan geopolitik masih belum sepenuhnya teratasi. Mereka menyoroti bahwa kebijakan AS untuk melonggarkan sanksi terhadap Rusia dapat menambah pasokan global, namun juga berisiko memperpanjang konflik di Timur Tengah jika Iran merasa terancam.
Secara keseluruhan, sinyal Trump memberikan harapan bagi pelaku pasar, namun ketidakpastian masih tetap tinggi. Pemerintah Amerika diperkirakan akan terus memantau situasi di Selat Hormuz dan menyesuaikan kebijakan energi sesuai dinamika geopolitik.
Dengan harga minyak yang kembali ke kisaran US$90‑95 per barel, beban biaya produksi bagi industri pengolahan dan transportasi di seluruh dunia diperkirakan akan berkurang, memberikan ruang napas bagi pertumbuhan ekonomi pasca‑pandemi. Namun, para pengamat menekankan pentingnya diplomasi yang berkelanjutan untuk memastikan stabilitas pasokan energi jangka panjang.
