Keuangan.id – 06 April 2026 | Pasar saham Indonesia (IDX) kembali berada di pusat sorotan investor global menjelang akhir kuartal II 2026. Kombinasi faktor geopolitik, khususnya konflik yang berlangsung antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, serta fluktuasi harga minyak mentah, menimbulkan dinamika yang signifikan bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sementara itu, data fundamental perusahaan dan rekomendasi analis membuka peluang sektor‑sektor tertentu untuk mengimbangi tekanan pasar.
Sentimen Global Dipengaruhi Konflik Iran
Konflik di Iran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terus menjadi sumber utama volatilitas. Investor global meningkatkan manajemen risiko setelah Presiden AS mengumumkan kelanjutan operasi militer tanpa tanggal akhir yang jelas. Dampak langsung terlihat pada harga minyak mentah Brent yang hampir menyentuh US$120 per barel sebelum kembali turun di bawah US$110 pada akhir pekan. Lonjakan harga energi menambah tekanan inflasi, yang pada gilirannya memengaruhi kebijakan suku bunga dan aliran modal ke aset berisiko.
Reaksi IDX Terhadap Gejolak Energi
IHSG pada sesi I 1 April 2026 mencatat kenaikan 1,45% hingga mencapai 7.150 poin, didorong oleh sentimen positif pada sektor perbankan dan energi. Namun, pada akhir Maret, indeks mengalami koreksi tajam hingga 14,20% dalam sebulan terakhir, seiring perang AS‑Iran memasuki pekan keempat. Data obligasi AS menunjukkan imbal hasil 10‑tahun tetap di sekitar 4,35%, menandakan tekanan inflasi yang masih tinggi.
Analisis Sektor dan Rekomendasi Saham
Berbagai analis menyoroti sektor‑sektor yang diperkirakan akan tetap kuat meski tekanan eksternal. Berikut rangkuman rekomendasi utama:
- Energi: Harga minyak yang tinggi memberi peluang bagi perusahaan energi domestik, meskipun risiko operasional terkait geopolitik tetap ada.
- Perbankan: Saham BBCA, BBRI, dan BBTN menunjukkan kinerja solid, didukung oleh peningkatan profitabilitas dan kebijakan suku bunga yang relatif stabil.
- Material: PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menjadi sorotan setelah laporan keuangan 2025, meski MDKA menghadapi tantangan likuiditas.
- Teknologi: Saham teknologi tetap berada di zona merah karena tekanan global, namun perusahaan dengan fundamental kuat tetap menarik bagi investor jangka panjang.
Berikut tabel ringkas yang menampilkan level support dan resistance utama IHSG berdasarkan analisis teknikal terbaru:
| Level | Harga |
|---|---|
| Support | 7.100 – 7.140 |
| Resistance | 7.200 – 7.250 |
Faktor Fundamental yang Mempengaruhi IDX
Dividen besar yang dibagikan oleh PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) sebesar Rp 1,4 triliun pada April 2026 meningkatkan kepercayaan investor terhadap sektor perbankan. Selain itu, laba bersih KPIG naik 8,9% menjadi Rp 717 miliar, mengindikasikan pertumbuhan yang kuat di sektor infrastruktur.
Namun, beberapa emiten mengalami tekanan. PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) mencatat kerugian sebesar Rp 199 miliar pada tahun buku 2026, sementara valuasi sahamnya tetap tinggi, menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakan investasi.
Prospek Kuartal II 2026
Dengan harga minyak yang masih berfluktuasi dan ketidakpastian geopolitik, indeks diprediksi akan bergerak dalam kisaran konsolidasi antara 7.100 hingga 7.250 poin. Analis menekankan pentingnya diversifikasi portofolio, mengalokasikan sebagian aset ke sektor energi, perbankan, dan material yang menunjukkan fundamental kuat. Investor juga disarankan memantau perkembangan negosiasi di Selat Hormuz, yang dapat memengaruhi pasokan energi global.
Secara keseluruhan, meskipun IDX menghadapi tantangan eksternal, peluang internal tetap ada bagi saham dengan fundamental kuat. Pengelolaan risiko yang cermat dan pemilihan sektor yang tepat menjadi kunci untuk mempertahankan pertumbuhan portofolio di tengah gejolak pasar.
