Keuangan.id – 23 April 2026 | Timnas Indonesia menelan kekalahan tipis 1-0 dari Bulgaria pada laga persahabatan internasional yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno. Meskipun hasil akhir tidak menguntungkan, Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri BUMN, Erick Thohir, menilai penampilan skuad kebangsaan tetap menunjukkan kelas dan profesionalisme yang patut diacungi jempol.
Dalam konferensi pers pasca pertandingan, Erick Thohir menegaskan bahwa “tim kita bermain dengan semangat juang tinggi, mengontrol tempo, dan menampilkan taktik yang terstruktur”. Ia menambahkan bahwa kualitas teknis pemain muda Indonesia semakin mendekati standar kompetisi Eropa, meski masih membutuhkan pengalaman di level internasional.
Penekanan pada Pembinaan Karakter
Selain pujian atas performa di lapangan, Thohir menyoroti pentingnya pembinaan karakter sejak usia dini. Ia mengingat kembali beberapa insiden yang terjadi dalam kompetisi Elite Pro Academy (EPA), termasuk kasus rasisme yang melibatkan pemain U‑20. Menurutnya, prestasi tidak dapat diukur hanya dari skill teknis; disiplin, toleransi, serta rasa hormat kepada lawan dan ofisial harus menjadi landasan utama.
Thohir menegaskan bahwa FIFA dan PSSI tidak akan menoleransi tindakan diskriminatif dalam bentuk apa pun. Ia mengimbau operator liga, klub, serta pelatih untuk memperkuat sosialisasi nilai anti‑rasisme, fair play, dan pengendalian emosi pada setiap tahapan kompetisi, baik di EPA maupun di level profesional.
Kasus Rasisme di EPA dan Respons PSSI
Pada minggu lalu, pertandingan antara Bhayangkara Presisi Lampung FC U‑20 melawan Dewa United Banten FC U‑20 memicu sorotan publik setelah terjadinya insiden tendangan “kung fu” serta tuduhan rasisme. Erick Thohir mengapresiasi inisiatif mediasi antara kedua klub yang berhasil menyelesaikan konflik secara damai. “Saya menghargai sikap sportivitas yang ditunjukkan klub, menegaskan kembali semangat persatuan dalam kerangka Pancasila,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengawasan pertandingan harus diperketat, termasuk pelatihan wasit dan penegakan sanksi tegas bagi pelanggar. Menurut Thohir, lingkungan kompetisi usia muda harus menjadi ruang belajar yang aman, mendidik, serta memupuk rasa empati antar pemain.
Visi Jangka Panjang Tim Nasional
Melihat ke depan, Erick Thohir menargetkan peningkatan peringkat FIFA Indonesia pada bulan Juni mendatang melalui serangkaian pertandingan persahabatan dan turnamen regional. Ia mengidentifikasi enam klub kuat yang dapat menjadi sumber pemain potensial bagi timnas, sekaligus menekankan pentingnya kolaborasi antara Liga 1, Liga 2, dan program pembinaan EPA.
Thohir juga menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, PSSI, dan pihak swasta dalam menyediakan fasilitas latihan yang memadai, program pendidikan karakter, serta skema beasiswa bagi talenta muda yang berpotensi bersaing di kancah internasional.
Secara keseluruhan, meski hasil di atas kertas belum memuaskan, Erick Thohir tetap optimis bahwa perjalanan Timnas Indonesia berada di jalur yang benar. Ia menutup pernyataannya dengan harapan agar seluruh elemen sepak bola Indonesia terus menjunjung tinggi sportivitas, mengedepankan nilai kemanusiaan, dan menolak segala bentuk diskriminasi.
