Keuangan.id – 25 April 2026 | Prediksi El Nino yang dijuluki “Godzilla” diproyeksikan akan melanda Indonesia pada tahun 2026 dengan intensitas yang sangat kuat. Kombinasi antara El Nino, Indian Ocean Dipole positif, dan kondisi tanah yang telah terdegradasi menimbulkan kekeringan berkepanjangan, khususnya di wilayah Kalimantan Barat, di mana hujan terakhir tercatat pada Februari 2026.
Risiko kebakaran hutan dan lahan semakin tinggi
Menurut Karmele Llano Sanchez, CEO Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (Yiari), daerah Ketapang mengalami kekeringan ekstrim sejak awal tahun. Kondisi kering ini mempercepat pengeringan bahan bakar alami seperti dedaunan kering dan lapisan gambut, sehingga meningkatkan potensi kebakaran hutan (karhutla). Pada Februari dan Maret 2026, kebakaran meluas di kawasan restorasi Yiari, Desa Pematang Gadung, menghanguskan habitat satwa liar termasuk orangutan, beruang madu, dan macan dahan.
Karakteristik El Nino “Godzilla” yang diperkirakan berlangsung lama menunda datangnya hujan, memperparah situasi pada musim kemarau yang belum mencapai puncaknya. Tanpa curah hujan yang cukup, vegetasi mengering, sumber air berkurang, dan lahan gambut mengering hingga mudah terbakar. Dampaknya tidak hanya pada kehilangan vegetasi, tetapi juga memperburuk pemanasan global melalui pelepasan karbon yang signifikan.
Pernyataan ahli IPB: Fenomena wajar di masa pancaroba
Sejumlah ahli iklim dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menegaskan bahwa kondisi seperti ini wajar terjadi pada masa pancaroba, yaitu transisi antara musim hujan dan kemarau yang dipengaruhi oleh interaksi global seperti El Nino dan IOD. Dr. Budi Santoso, peneliti iklim IPB, menjelaskan bahwa intensitas El Nino yang lebih kuat dari rata-rata historis memang dapat memicu anomali curah hujan, sehingga beberapa wilayah mengalami periode kering yang lebih lama dari biasanya. Namun, ia memperingatkan bahwa kombinasi faktor manusia—seperti perubahan tata guna lahan dan degradasi hutan—memperparah dampak alamiah tersebut.
“Kita berada dalam fase transisi iklim yang kompleks. El Nino kuat memang meningkatkan risiko kekeringan, namun kebijakan pengelolaan lahan yang lemah menjadi katalis utama kebakaran hutan,” kata Dr. Budi.
Dampak pada biodiversitas dan kesehatan masyarakat
Kebakaran hutan tidak hanya menghancurkan habitat, tetapi juga memicu krisis kesehatan. Asap tebal mengandung partikel halus (PM2.5) yang berbahaya bagi anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan. Pada periode kebakaran 2025‑2026, laporan rumah sakit di Kalimantan Barat mencatat peningkatan kunjungan kasus asma dan bronkitis.
Selain itu, hilangnya habitat mengancam kelangsungan hidup spesies endemik. Satwa seperti orangutan Sumatera dan beruang madu yang sebelumnya dilindungi kini terpaksa mencari makan di daerah terbuka, meningkatkan konflik manusia‑satwa.
Langkah mitigasi dan kesiapsiagaan
- Patroli rutin oleh tim Yiari untuk memantau titik rawan kebakaran.
- Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan pencegahan dan penanggulangan kebakaran.
- Peningkatan sistem peringatan dini berbasis satelit dan sensor tanah.
- Rehabilitasi lahan gambut dengan teknik penanaman kembali spesies penahan air.
Pengalaman El Nino 2015‑2016 menunjukkan bahwa kebakaran dapat meluas dengan cepat bila tidak ada intervensi awal. Pada saat itu, kebakaran melanda lebih dari 5 juta hektar hutan di Asia Tenggara, menyebabkan kabut asap lintas batas dan menurunkan kualitas udara secara signifikan.
Dengan persiapan yang matang, pemantauan dini, serta keterlibatan aktif masyarakat, potensi kerusakan dapat diminimalkan. Namun, tantangan tetap besar mengingat intensitas El Nino “Godzilla” diperkirakan lebih tinggi dari siklus sebelumnya.
Jika curah hujan tidak kembali dalam beberapa bulan mendatang, risiko kebakaran akan terus meningkat, menuntut koordinasi lintas sektor antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas ilmiah untuk mengurangi dampak lingkungan dan sosial.
