Ekspor Minyak Arab Saudi Terpuruk 50% Akibat Penutupan Selat Hormuz—Dampak Besar pada Pasar Asia

Ekspor Minyak Arab Saudi Terpuruk 50% Akibat Penutupan Selat Hormuz—Dampak Besar pada Pasar Asia
Ekspor Minyak Arab Saudi Terpuruk 50% Akibat Penutupan Selat Hormuz—Dampak Besar pada Pasar Asia

Keuangan.id – 29 April 2026 | Penutupan de‑facto Selat Hormuz oleh pasukan Iran menurunkan ekspor minyak Arab Saudi sekitar setengahnya, memaksa Riyadh menyesuaikan kebijakan produksi dan harga. Selat Hormuz, yang menyumbang hampir 20% pasokan minyak dunia, kini menjadi titik rawan yang menghambat aliran jutaan barel per hari ke pasar global.

Penurunan ekspor yang signifikan

Data internal kementerian energi Arab Saudi menunjukkan bahwa volume ekspor harian turun dari 10,6 juta barel menjadi sekitar 5,3 juta barel setelah selat itu diblokir. Penurunan 50 persen ini menurunkan pendapatan minyak negara yang selama ini menjadi tulang punggung fiskal.

Kondisi ini bertepatan dengan lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 3,0 dolar (≈2,8%) menjadi US$111,26 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) naik 3,56 dolar menjadi US$99,93 per barel pada perdagangan 29 April 2026. Kenaikan harga tersebut merupakan bagian dari serangkaian peningkatan selama tujuh hari berturut‑turut, dipicu oleh kekhawatiran pasokan.

Pengaruh keputusan Uni Emirat Arab keluar dari OPEC

Pada saat yang sama, Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan akan keluar dari OPEC efektif 1 Mei 2026. Keputusan itu menambah ketidakpastian pasar karena UEA, produsen keempat terbesar di OPEC+, berencana meningkatkan produksi hingga 30% tanpa batasan kuota. Analis memperkirakan UEA dapat menambah 1–1,5 juta barel per hari, namun penutupan Selat Hormuz membuat jalur ekspor tambahan tersebut sulit dimanfaatkan.

Dengan UEA keluar, Arab Saudi menjadi satu‑satunya penstabil utama dalam blok OPEC+. Hal ini memberi Riyadh ruang lebih untuk menyesuaikan harga, namun sekaligus menambah beban geopolitik karena negara itu harus menanggapi tekanan dari kedua sisi: permintaan pasar Asia yang terus naik dan risiko keamanan laut.

Dampak regional dan global

Penutupan Selat Hormuz mengganggu sekitar 13% pasokan minyak dunia, setara dengan lebih dari 13 juta barel per hari. Selain itu, konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran menurunkan pasokan LNG global hingga hampir 20%, memperparah krisis energi.

Negara‑negara konsumen utama di Asia, termasuk Cina, India, dan Jepang, menghadapi tekanan harga yang meningkat serta kebutuhan untuk mencari jalur alternatif. Beberapa pelabuhan di Teluk kini beralih ke rute panjang melalui Laut Merah dan Laut Tengah, menambah biaya logistik.

Langkah Riyadh menghadapi krisis

Arab Saudi mengumumkan rencana pemotongan harga minyak untuk pasar Asia, meski belum dipastikan seberapa dalam pemotongan tersebut. Menteri energi Saudi menekankan bahwa penurunan volume ekspor tidak akan memicu “serangan penjualan besar‑besaran” karena Saudi berkomitmen menjaga stabilitas pasar.

Selain menyesuaikan harga, Saudi juga meningkatkan stok strategis di pelabuhan Ras Tanura dan memperkuat keamanan laut dengan menambah patroli kapal penjaga. Pemerintah menyiapkan paket insentif bagi industri domestik untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi.

Proyeksi ke depan

  • Jika Selat Hormuz tetap tertutup, ekspor Saudi dapat turun lebih jauh, memaksa negara tersebut mengandalkan cadangan dan menyesuaikan kebijakan produksi.
  • Kebijakan UEA yang bebas kuota dapat meningkatkan persaingan di pasar Asia, menurunkan pangsa pasar Saudi jika konflik tidak segera teratasi.
  • Harga minyak diperkirakan tetap volatil hingga ada kesepakatan damai antara AS dan Iran atau hingga jalur alternatif terbukti efektif.

Secara keseluruhan, penutupan Selat Hormuz menimbulkan tekanan besar pada ekspor minyak Arab Saudi dan memicu dinamika baru dalam geopolitik energi. Arab Saudi harus menyeimbangkan antara menjaga pendapatan, menjaga stabilitas pasar, dan mengelola risiko keamanan laut yang terus berkembang.

Exit mobile version