Berita  

Drama Laut, Gunung Merapi, dan Uang Baru: 3 Kejadian Menggemparkan Sumbar dalam Satu Minggu

Drama Laut, Gunung Merapi, dan Uang Baru: 3 Kejadian Menggemparkan Sumbar dalam Satu Minggu
Drama Laut, Gunung Merapi, dan Uang Baru: 3 Kejadian Menggemparkan Sumbar dalam Satu Minggu

Keuangan.id – 11 Maret 2026 | Sumatera Barat (Sumbar) menjadi sorotan nasional dalam seminggu terakhir setelah tiga peristiwa dramatis mengguncang wilayahnya. Dari seorang nelayan berusia 71 tahun yang terdampar selama tujuh hari karena kapal mesin mati, hingga letusan mendadak Gunung Marapi yang mengeluarkan awan abu tebal, serta kebingungan warga Buru dalam proses penukaran mata uang baru, semuanya menambah daftar kejadian penting yang patut dicermati.

Kapal Mesin Mati: Kisah Hidup dan Bertahan Seorang Nelayan Senior

Ridwan (71), seorang nelayan asal Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, terpaksa berlayar sendirian pada 24 Februari 2026 di perairan Pulau Sebuku. Saat hendak pulang, mesin perahunya tiba‑tiba tidak mau menyala. “Waktu itu sudah mau kembali pulang, tapi mesin tidak mau hidup sama sekali,” ungkap Ridwan kepada tim Kompas.com pada 10 Maret 2026.

Tanpa bantuan, Ridwan memaksa diri mengandalkan tenaga otot, memanfaatkan ikan yang berhasil ditangkap, dan sekilo beras yang terbawa. Selama tujuh hari, ia berjuang melawan gelombang yang membuat perahu miring dan arus yang membawanya jauh dari tujuan. Akhirnya, pada 1 Maret 2026, perahu Ridwan terserempak oleh nelayan setempat di Desa Pamboang, Kecamatan Pamboang, Sulawesi Barat (Sulbar). Meskipun dalam keadaan lemas, ia selamat dan segera kembali ke Kotabaru.

Kasus ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan peralatan laut, terutama bagi nelayan senior. Pihak berwenang di Sulbar dan Kalsel kini memperketat inspeksi mesin kapal serta meningkatkan koordinasi dengan Basarnas untuk respon cepat pada insiden serupa.

Gunung Marapi Meletus: Ancaman Vulkanik yang Membayangi Sumbar

Pada 8 Maret 2026, Gunung Marapi, salah satu gunung berapi paling aktif di Sumatra, mengeluarkan letusan eksplosif yang memuntahkan abu vulkanik setinggi 3.000 meter. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera mengeluarkan peringatan status II (waspada) dan menutup tiga desa di lereng barat gunung tersebut.

Akibat abu yang tersebar, penerbangan di Bandara Internasional Minangkabau (PDG) sempat terganggu, dan ribuan warga dipindahkan ke posko darurat. Laporan BMKG mencatat bahwa aliran lava tidak mencapai permukiman, namun curah hujan asam diperkirakan akan mempengaruhi pertanian jagung dan padi di daerah sekitar.

  • Jumlah korban: 0 jiwa (evakuasi berhasil)
  • Kerusakan properti: estimasi Rp 12 miliar (atap rumah dan kendaraan tertutup abu)
  • Gangguan transportasi: pembatalan 15 penerbangan, penutupan jalan lintas Marapi selama 24 jam

Tim SAR dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar terus memantau aktivitas seismik dan menyiapkan bantuan logistik bagi penduduk yang kehilangan tanaman.

Warga Buru Kebingungan dalam Penukaran Uang Baru

Seiring dengan peluncuran uang kertas baru rupiah pada akhir Februari 2026, warga Kabupaten Buru (Maluku), yang juga memiliki hubungan ekonomi dengan Sumbar melalui perdagangan hasil pertanian, menghadapi tantangan dalam proses penukaran. Banyak warga melaporkan antrian panjang di bank-bank cabang, serta kurangnya sosialisasi tentang desain dan keamanan uang baru.

Bank Indonesia (BI) menanggapi dengan mengirimkan tim edukasi ke Buru dan beberapa kota di Sumbar, termasuk Padang dan Bukittinggi. Program ini mencakup penyebaran materi visual, pelatihan petugas bank, serta instalasi mesin ATM yang mendukung penukaran otomatis.

Berikut beberapa langkah yang diambil:

  1. Penambahan loket penukaran di kantor pos dan kantor kelurahan.
  2. Distribusi brosur berbahasa Minangkabau dan Lampung.
  3. Penggunaan aplikasi mobile BI untuk cek keaslian uang.

Upaya ini diharapkan dapat mempercepat adaptasi masyarakat terhadap uang baru dan mengurangi potensi penipuan.

Ketiga peristiwa ini, meskipun berbeda sifatnya, menunjukkan betapa dinamisnya tantangan yang dihadapi Sumbar dan sekitarnya. Dari laut hingga gunung, serta ekonomi sehari‑hari, koordinasi lintas lembaga menjadi kunci utama dalam mitigasi risiko.

Dengan peningkatan kesiapsiagaan, transparansi informasi, dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan Sumbar dapat kembali tenang dan fokus pada pembangunan berkelanjutan.

Exit mobile version