Berita  

Dirut RSHS Bandung Jelaskan Kasus Bayi Nyaris Hilang: Kebocoran Prosedur yang Menyulut Kepanikan

Dirut RSHS Bandung Jelaskan Kasus Bayi Nyaris Hilang: Kebocoran Prosedur yang Menyulut Kepanikan
Dirut RSHS Bandung Jelaskan Kasus Bayi Nyaris Hilang: Kebocoran Prosedur yang Menyulut Kepanikan

Keuangan.id – 01 Mei 2026 | Bandung – Direksi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) memberikan keterangan resmi terkait insiden yang menghebohkan publik, di mana seorang bayi hampir hilang dari ruang perawatan intensif neonatal. Penjelasan tersebut disampaikan oleh Direktur Utama (Dirut) RSHS, Dr. Andi Prasetyo, pada konferensi pers yang diadakan pada Jumat, 1 Mei 2026.

Latar Belakang Insiden

Kasus bermula ketika seorang perawat dengan inisial NN mengeluarkan gelang identitas yang terpasang pada bayi bernama N. Menurut keterangan saksi, gelang tersebut tampak pudar karena terkena cairan, sehingga NN memutuskan untuk menggantinya dengan stiker identitas yang tertera di rekam medis. Pada saat yang sama, perawat tersebut sedang sibuk menyiapkan jadwal pemberian susu, sehingga terjadi kebingungan dalam mencocokkan bayi yang sedang digendongnya.

Akibat distraksi tersebut, bayi N secara tidak sengaja diserahkan kepada orang tua pasien lain, yang diidentifikasi dengan inisial W. Kedua bayi tersebut dirawat bersamaan di Ruang Neonatal High Care Unit (NHCU) 2, Gedung MCHC RSHS Bandung, dengan diagnosis jantung bawaan pada bayi W.

Penjelasan Dirut RSHS Bandung

Dr. Andi menegaskan bahwa kejadian ini merupakan pelanggaran prosedur standar operasional (SOP) rumah sakit, bukan tindakan yang disengaja. “Kami menyesali terjadinya kebingungan identitas yang hampir berujung pada kehilangan bayi. Kami telah melakukan evaluasi internal dan menemukan bahwa prosedur penanganan gelang identitas belum sepenuhnya mematuhi pedoman yang telah ditetapkan,” ujar Dirut.

Ia menambahkan bahwa rumah sakit segera mengaktifkan tim audit klinis untuk meninjau ulang seluruh alur kerja di unit neonatal. Tim tersebut akan memperbaiki mekanisme pencatatan, memastikan penggunaan gelang tahan air, serta menambah pelatihan bagi seluruh tenaga medis mengenai pentingnya verifikasi ganda sebelum penyerahan bayi kepada orang tua.

Penggalian Fakta oleh Polda Jawa Barat

Investigasi kasus ini berada di bawah naungan Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polri Jawa Barat. Kabid Humas Polda Jabar, Hendra Rochmawan, mengungkapkan bahwa penyidik telah memeriksa delapan saksi, termasuk pelapor Nina Saleha, suaminya, serta beberapa pejabat dan tenaga medis rumah sakit.

Hendra menjelaskan bahwa polisi menemukan indikasi pelanggaran prosedur, namun belum menemukan unsur kesengajaan. “Saat ini kami masih menunggu hasil analisis rekaman CCTV dan barang bukti lain. Hingga laporan ini dibuat, kami belum dapat menyimpulkan adanya unsur pidana,” katanya.

Tindakan Korektif dan Pencegahan

Berikut langkah-langkah yang telah direncanakan rumah sakit dan pihak kepolisian:

  • Penggantian semua gelang identitas dengan material yang tahan terhadap cairan dan mudah dibaca.
  • Penerapan prosedur verifikasi ganda (double‑check) oleh dua perawat sebelum menyerahkan bayi kepada orang tua.
  • Peningkatan frekuensi pelatihan simulasi situasi darurat identitas pada unit neonatal.
  • Audit rutin oleh tim independen untuk memastikan kepatuhan SOP.
  • Pengawasan intensif terhadap rekaman CCTV di area rawat inap neonatal selama enam bulan ke depan.

Reaksi Publik dan Harapan Kedepan

Masyarakat dan media sosial menanggapi insiden ini dengan keprihatinan besar. Banyak orang tua mengungkapkan rasa cemas akan keamanan proses penyerahan bayi di rumah sakit. Dirut RSHS menegaskan komitmen penuh untuk memulihkan kepercayaan publik. “Kami berjanji akan meningkatkan transparansi, menyediakan laporan perkembangan investigasi secara berkala, dan memastikan tidak ada lagi kasus serupa,” tuturnya.

Kasus bayi nyaris hilang ini menjadi pengingat penting bagi seluruh institusi layanan kesehatan di Indonesia untuk meninjau kembali standar prosedur keamanan pasien, khususnya pada populasi paling rentan, yaitu bayi baru lahir.

Exit mobile version