Keuangan.id – 05 April 2026 | Danantara, grup perhotelan terkemuka asal Indonesia, menandatangani kesepakatan strategis dengan Qatar Investment Authority (QIA) untuk mengubah Labuan Bajo menjadi pusat pariwisata baru yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di wilayah Indonesia timur.
Kerjasama ini mencakup pengembangan kawasan terpadu yang meliputi hotel kelas dunia, marina, fasilitas ekowisata, serta pusat kebudayaan yang menonjolkan kearifan lokal. Rencana investasi diperkirakan mencapai beberapa miliar dolar Amerika, dengan tujuan utama meningkatkan kunjungan wisatawan domestik dan internasional.
Berikut beberapa poin utama yang diharapkan dari proyek ini:
- Peningkatan jumlah wisatawan hingga 30% dalam lima tahun ke depan.
- Penciptaan ribuan lapangan kerja baru, baik langsung di sektor perhotelan maupun tidak langsung di bidang transportasi, kuliner, dan kerajinan.
- Peningkatan pendapatan daerah melalui pajak, royalti, dan kegiatan ekonomi terkait.
- Pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk jalan akses, bandara, dan jaringan listrik yang ramah lingkungan.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan serta Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Mereka menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam Pulau Komodo dan sekitarnya, sehingga proyek harus mematuhi standar keberlanjutan yang ketat.
Dalam pernyataannya, CEO Danantara menekankan bahwa kolaborasi dengan QIA membuka peluang bagi transfer teknologi dan keahlian manajemen hotel kelas internasional. Sementara itu, perwakilan QIA menyatakan komitmen untuk menyalurkan modal dan pengetahuan investasi yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi regional.
Proses pelaksanaan diproyeksikan dimulai dengan studi kelayakan pada akhir 2024, diikuti fase konstruksi utama antara 2025 hingga 2028. Operasional penuh diperkirakan akan dimulai pada awal 2029, bersamaan dengan peluncuran kampanye pemasaran global.
Jika berhasil, Labuan Bajo berpotensi menjadi contoh model pengembangan pariwisata berkelanjutan yang dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia timur, sekaligus memperkuat posisi negara sebagai destinasi wisata kelas dunia.
