Keuangan.id – 08 April 2026 | CNAF (Asosiasi Pembiayaan Konsumen Indonesia) baru‑baru ini memaparkan sejumlah kendala yang dihadapi dalam penyaluran pembiayaan kendaraan listrik (EV) menjelang tahun 2026.
Beberapa faktor utama yang menambah beban bagi lembaga pembiayaan antara lain kenaikan harga kendaraan listrik akibat inflasi bahan baku, penurunan nilai jual kembali (resale value) yang masih rendah, serta keterbatasan jaringan pengisian di beberapa wilayah.
- Kenaikan Harga: Harga EV diproyeksikan naik 10‑15 % dalam dua tahun ke depan, menyulitkan konsumen untuk mendapatkan skema kredit dengan tenor yang wajar.
- Resale Value: Pasar bekas EV belum stabil, sehingga nilai jual kembali turun 20‑30 % dibandingkan mobil konvensional.
- Infrastruktur: Ketersediaan stasiun pengisian masih terbatas, terutama di luar kota besar, menurunkan daya tarik kredit EV.
- Risiko Kredit: Tingkat default diperkirakan meningkat karena ketidakpastian nilai aset di akhir masa kredit.
- Kebijakan Pemerintah: Kebijakan subsidi yang belum konsisten menambah ketidakpastian bagi pemberi pinjaman.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, CNAF merumuskan beberapa strategi:
| Strategi | Deskripsi |
|---|---|
| Skema Pembiayaan Fleksibel | Penawaran tenor lebih panjang dengan bunga bersubsidi untuk menurunkan beban bulanan. |
| Kerjasama dengan Penyedia Infrastruktur | Membangun kemitraan dengan operator pengisian untuk memberikan paket bundling bagi konsumen. |
| Asuransi Nilai Resale | Menyediakan produk asuransi yang menutupi selisih nilai jual kembali pada akhir kontrak. |
| Insentif Pemerintah | Berkoordinasi dengan regulator untuk mengamankan subsidi pajak dan insentif lainnya. |
| Peningkatan Literasi Keuangan | Edukasi konsumen mengenai total cost of ownership (TCO) kendaraan listrik. |
Dengan kombinasi langkah‑langkah di atas, CNAF berharap dapat menstabilkan aliran dana ke sektor kendaraan listrik, sekaligus mendorong adopsi yang lebih luas di tengah tantangan pasar yang dinamis.
