Keuangan.id – 05 Mei 2026 | PT Chandra Asri Pacific Tbk (ticker: TPIA) resmi mengumumkan berakhirnya status force majeure yang selama beberapa bulan terakhir menghambat pasokan polymer dan monomer ke industri domestik. Keputusan ini diambil setelah serangkaian langkah strategis berhasil menstabilkan rantai pasokan bahan baku, sekaligus mencatatkan lonjakan laba yang signifikan pada kuartal terakhir.
Penutup Force Majeure dan Stabilitas Pasokan
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi, menegaskan bahwa mengakhiri force majeure merupakan langkah krusial untuk mendukung keberlangsungan produksi industri kimia, otomotif, dan konstruksi di Indonesia. “Kami berkomitmen memastikan industri nasional tetap mendapatkan bahan baku yang dibutuhkan, sehingga produksi tidak terhambat,” ujar Suryandi dalam pernyataan tertulis pada 5 Mei 2026.
Stabilisasi pasokan dicapai lewat diversifikasi sumber bahan baku, termasuk kontrak jangka panjang dengan pemasok di Asia Tenggara, Amerika Serikat, serta optimalisasi fasilitas kilang di Singapura. Upaya logistik ini berhasil menurunkan waktu tunggu bahan baku dari 30 menjadi 12 hari, sehingga produsen domestik dapat kembali beroperasi dengan kapasitas penuh.
Lonjakan Laba dan Kinerja Keuangan
Dalam laporan keuangan kuartal III 2026, Chandra Asri mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini dipicu oleh tiga faktor utama: (1) penurunan biaya bahan baku berkat strategi sourcing yang lebih efisien, (2) peningkatan margin penjualan polymer dan monomer setelah force majeure dicabut, dan (3) pengurangan beban operasional melalui otomatisasi proses produksi.
Revenue perusahaan naik menjadi Rp 25 triliun, sementara EBITDA mencapai Rp 7,5 triliun, mencerminkan efisiensi operasional yang signifikan. Analyst pasar modal menilai bahwa tren pertumbuhan ini dapat berlanjut selama permintaan domestik tetap kuat dan kebijakan pemerintah mendukung industri petrokimia nasional.
Strategi Jangka Panjang dan Ekspansi
Chandra Asri tidak hanya berfokus pada pemulihan pasokan, melainkan juga mengintensifkan program transformasi digital. Investasi sebesar Rp 1,2 triliun dialokasikan untuk pengembangan sistem monitoring real‑time pada rantai pasokan, serta penerapan teknologi AI untuk prediksi permintaan pasar.
Selain itu, perusahaan mengumumkan rencana ekspansi kapasitas produksi polymer sebesar 20% dalam dua tahun ke depan, dengan penambahan unit produksi di fasilitas utama di Cilegon. Proyek ini diharapkan menambah nilai tambah bagi industri downstream, termasuk produsen plastik dan bahan bangunan.
Reaksi Pasar dan Sentimen Investor
Setelah pengumuman berakhirnya force majeure, indeks saham Indonesia (IHSG) mencatat kenaikan 1,22% pada penutupan hari itu, didorong oleh kenaikan saham TPIA sebesar 8,5%. Investor institusional menambah kepemilikan mereka, menandakan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Volume perdagangan saham Chandra Asri mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir, mencerminkan minat kuat dari kalangan ritel dan dana pensiun. Analis memperkirakan target harga saham naik menjadi Rp 5.800 per lembar, naik 15% dari level sebelumnya.
Implikasi Bagi Industri Nasional
Stabilisasi pasokan polymer dan monomer memiliki dampak luas pada rantai nilai industri Indonesia. Produsen barang konsumen, konstruksi, dan otomotif kini dapat kembali merencanakan produksi tanpa harus mengandalkan stok penyangga yang mahal. Harga polymer domestik diproyeksikan turun 3‑5% dalam tiga bulan ke depan, memberikan tekanan positif pada harga akhir produk konsumen.
Selain itu, kebijakan pemerintah yang mendukung lokalitas bahan baku kimia semakin relevan, mengingat Chandra Asri kini dapat menjadi mitra utama dalam program industri 4.0 nasional.
Dengan langkah-langkah strategis yang terintegrasi, pengakhiran force majeure, dan kinerja keuangan yang kuat, Chandra Asri berada pada posisi yang menguntungkan untuk memimpin pasar petrokimia Indonesia selama dekade mendatang.
