Keuangan.id – 06 April 2026 | Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru‑baru ini merilis kajian yang menyoroti besarnya ancaman perubahan iklim terhadap perekonomian Indonesia. Menurut hasil analisis, krisis iklim dapat menelan kerugian sebesar Rp112,2 triliun, angka yang setara dengan sekitar 4,5% Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini.
Dampak pada Sektor‑Sektor Kunci
Kerugian tersebut tidak merata, melainkan terkonsentrasi pada beberapa sektor yang paling sensitif terhadap perubahan iklim, antara lain:
- Sektor Pangan: Penurunan produktivitas pertanian akibat suhu ekstrem, pola hujan yang tidak menentu, dan frekuensi banjir meningkat.
- Perikanan: Pemutihan terumbu karang dan perubahan suhu laut mengganggu produksi perikanan laut.
- Energi: Fluktuasi pasokan air memengaruhi pembangkit listrik tenaga air, sementara suhu tinggi menurunkan efisiensi pembangkit termal.
- Infrastruktur: Peningkatan frekuensi badai dan kenaikan permukaan laut menambah beban perbaikan dan pemeliharaan.
Data Dampak Ekonomi
| Sektor | Estimasi Kerugian (Rp Triliun) | Persentase PDB |
|---|---|---|
| Pangan | 45,8 | 1,8% |
| Perikanan | 22,5 | 0,9% |
| Energi | 18,9 | 0,8% |
| Infrastruktur | 25,0 | 1,0% |
Data di atas menggambarkan bahwa sektor pangan menyumbang hampir setengah dari total kerugian yang diproyeksikan.
Langkah Adaptasi Nasional
BRIN menekankan perlunya percepatan kebijakan adaptasi nasional untuk menahan dampak ekonomi. Beberapa rekomendasi utama meliputi:
- Peningkatan investasi pada teknologi pertanian tahan iklim, seperti varietas padi tahan banjir dan kering.
- Pengembangan jaringan irigasi pintar yang dapat menyesuaikan volume air sesuai prediksi cuaca.
- Penerapan asuransi berbasis cuaca untuk melindungi petani dan nelayan dari kerugian mendadak.
- Penguatan standar bangunan dan infrastruktur publik agar tahan terhadap banjir dan badai.
- Pengintegrasian data iklim dalam perencanaan ekonomi regional dan nasional.
Implementasi kebijakan tersebut diharapkan dapat menurunkan eksposur kerugian hingga setengahnya dalam jangka menengah, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan energi negara.
Dengan mempercepat langkah adaptasi, Indonesia dapat mengubah ancaman iklim menjadi peluang inovasi, sekaligus melindungi pertumbuhan ekonomi dari guncangan yang semakin sering terjadi.
