Keuangan.id – 15 Maret 2026 | JAKARTA, 14 Maret 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan serangkaian peringatan terkait kondisi cuaca yang dapat mengancam perjalanan mudik Lebaran 2026. Dari potensi hujan lebat di Jawa Timur hingga gelombang tinggi di perairan Sumatera Utara, serta proyeksi musim kemarau yang lebih kering dari biasanya, seluruh lapisan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
Peringatan Cuaca Ekstrem di Jawa Timur
Kantor BMKG Juanda menegaskan bahwa hampir seluruh wilayah Jawa Timur berada dalam zona risiko tinggi mulai 14 Maret hingga 20 Maret 2026. Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menyebutkan bahwa fenomena atmosfer global seperti Madden‑Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Kelvin memperkuat potensi hujan deras, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, serta hujan es.
Daerah‑daerah yang paling berisiko meliputi:
- Kabupaten Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Gresik, Kediri, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, Tulungagung, Jember, Pasuruan, Bojonegoro, Jombang, Lamongan, Pamekasan, Tuban
- Kota Batu, Blitar, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Surabaya
BMKG menyoroti bahwa wilayah bertopografi curam dan berbukit harus siap menghadapi jalan licin, pohon tumbang, serta berkurangnya jarak pandang. Masyarakat di daerah tersebut diimbau untuk terus memantau pembaruan informasi melalui kanal resmi BMKG.
Potensi Gelombang Tinggi di Perairan Sumatera Utara
Selain ancaman darat, BMKG juga mengeluarkan peringatan tentang gelombang laut yang dapat mencapai ketinggian 2,5 meter di pantai Sumatera Utara. Kondisi ini dipicu oleh tekanan atmosfer yang tidak stabil serta arus laut hangat yang memperkuat pembentukan gelombang. Petugas menekankan risiko bagi nelayan dan kapal penumpang, serta potensi erosi pantai yang dapat mengganggu aktivitas pelabuhan.
Prediksi Hujan Lebat Selama Arus Mudik
BMKG memperkirakan bahwa periode arus mudik, yakni 13–19 Maret 2026, akan mengalami intensitas hujan yang bervariasi dari ringan hingga ekstrem. Data curah hujan harian pada 9–11 Maret menunjukkan nilai tertinggi di wilayah Jawa Timur (120,5 mm/hari) dan Jawa Barat (116,8 mm/hari). Provinsi lain yang diperkirakan mengalami hujan lebat meliputi Sulawesi Utara, Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Utara.
Faktor penggerak utama adalah aktivitas MJO yang masih aktif di selatan dan timur Indonesia, serta keberadaan beberapa bibit siklon tropis (95W, 96W) yang dapat menambah konvergensi angin dan memperkuat pembentukan awan cumulonimbus. Oleh karena itu, BMKG menandai zona siaga dengan risiko hujan lebat‑sangat lebat di Aceh, Bangka Belitung, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan wilayah pegunungan. Angin kencang diperkirakan melanda Bali, Banten, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian wilayah Sulawesi dan Papua.
Proyeksi Musim Kemarau 2026 yang Lebih Kering
Di samping ancaman hujan, BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau tahun 2026 diprediksi akan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap memperkirakan curah hujan di bawah normal, dengan puncak kemarau pada bulan Agustus. Masa transisi dari musim hujan ke kemarau diperkirakan terjadi antara April hingga Mei, terutama di Nusa Tenggara yang akan menjadi wilayah pertama mengalami kondisi kering.
Selama musim kemarau, risiko kebakaran hutan, kekeringan tanah, dan suhu tinggi menjadi perhatian utama. Masyarakat di daerah pertanian disarankan mengoptimalkan penggunaan air irigasi dan memantau kondisi tanah secara berkala.
Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, BMKG menegaskan pentingnya kesiapsiagaan bersama antara pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat umum. Mematuhi protokol keamanan, menyiapkan perlengkapan darurat, dan mengikuti informasi resmi dapat meminimalisir dampak cuaca ekstrem selama periode mudik Lebaran.
Keseluruhan, meskipun sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami cuaca kondusif, potensi hujan lebat, gelombang tinggi, serta musim kemarau yang lebih kering menuntut kewaspadaan ekstra. Pemerintah dan BMKG terus berkoordinasi untuk menyediakan pembaruan real‑time, sehingga pemudik dapat merencanakan perjalanan dengan aman dan nyaman.
