Keuangan.id – 14 April 2026 | Bank Indonesia (BI) memperkirakan bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh sekitar 5,2 persen pada kuartal pertama tahun 2026. Proyeksi ini disampaikan oleh Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, dalam acara Central Banking Forum 2026 pada 13 April 2026.
Berikut beberapa faktor utama yang mendukung proyeksi tersebut:
- Konsumsi domestik tetap kuat, tercermin dari kenaikan Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) yang mencapai 129,2 pada Maret 2026, naik dari 125,0 pada Februari 2026.
- Indeks Manufaktur Purchasing Managers Index (PMI) diperkirakan akan tetap berada pada level positif, menandakan ekspektasi produsen yang masih baik meskipun terdapat tekanan eksternal.
- BI menekankan pentingnya sinergi kebijakan antara fiskal, moneter, dan sektor riil untuk menjaga momentum pertumbuhan.
- Penekanan khusus diberikan pada penguatan ketahanan pangan melalui program pembukaan lahan, kampung nelayan, dan inisiatif MBG serta KDMP.
- Ketahanan energi juga menjadi prioritas, dengan upaya pembangunan kilang baru untuk mengurangi ketergantungan impor.
Destry Damayanti menambahkan, “Ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja yang solid, terutama pada kelompok pendapatan menengah ke atas. Namun, perhatian utama tetap pada kelompok berpendapatan rendah yang paling merasakan dampak kebijakan.” Ia juga mencatat adanya penurunan sementara dalam PMI akibat kekhawatiran geopolitik, namun menegaskan bahwa momentum masih positif dan perlu dijaga.
Proyeksi pertumbuhan 5,2 persen ini berada di atas ekspektasi sebelumnya dan mengindikasikan optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia pada awal tahun 2026, selama kebijakan makroekonomi tetap terkoordinasi dengan baik.
