Keuangan.id – 09 April 2026 | Tim SAR (Search and Rescue) Bengkulu berhasil menemukan jasad Ujang Kidik, seorang nelayan berusia 63 tahun, yang hilang setelah perahunya karam di perairan Pantai Pasir Putih, Kota Bengkulu pada Minggu, 5 April 2026. Peristiwa tragis ini menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat pesisir dan menegaskan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Latar Belakang Kecelakaan
Pada pukul 16.00 WIB, dua nelayan – Ujang Kidik (62 tahun) dan Berry (43 tahun) – berangkat melaut untuk mencari ikan di perairan Pantai Pasir Putih. Sekitar satu jam setelah keberangkatan, cuaca tiba‑tiba berubah menjadi buruk. Hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi menghantam perahu kecil mereka, membuat kapal tidak mampu menahan tekanan air. Akibatnya, perahu tersebut terbalik dan menenggelam.
Berry berhasil selamat dan naik ke daratan dengan bantuan penduduk setempat, sementara Ujang Kidik tidak dapat ditemukan pada saat itu. Pihak berwenang segera mengumumkan bahwa ia dinyatakan hilang dan memulai operasi pencarian intensif.
Operasi Pencarian dan Penyelamatan
Operasi pencarian dipimpin oleh Tim SAR Bengkulu dengan dukungan dari Basarnas, Polresta Bengkulu, TNI, BPBD Kota Bengkulu, serta sukarelawan masyarakat. Berbagai peralatan SAR dikerahkan, termasuk perahu SAR air, peralatan medis, Landing Craft Rubber (LCR), serta kendaraan operasional seperti double‑cabin dan truk personel.
Cuaca yang masih buruk menjadi tantangan utama selama tiga hari pencarian. Tim SAR harus menyesuaikan taktik mereka, memanfaatkan radar maritim, sonar, dan helikopter untuk mendeteksi jejak di permukaan laut. Pada hari ketiga, Selasa, 7 April 2026, tim SAR berhasil menemukan jasad Ujang Kidik sekitar 3,5 kilometer dari lokasi kecelakaan.
Menurut pernyataan Mega Maysilva, juru bicara tim SAR, “Telah ditemukan tim SAR gabungan pada hari ketiga jasad nelayan korban kapal karam di Perairan Pantai Pasir Putih, Kota Bengkulu sore ini.” Jasad tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara di Kota Bengkulu untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut.
Dampak dan Tanggapan Masyarakat
Kejadian ini menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan nelayan dan warga pesisir. Banyak yang mengkritik kurangnya peringatan dini terkait cuaca buruk serta keterbatasan fasilitas keselamatan di kapal‑kapal kecil. Para nelayan menuntut peningkatan pelatihan keselamatan laut dan penyediaan peralatan darurat seperti pelampung dan radio VHF.
Pemerintah daerah setempat, melalui Dinas Kelautan dan Perikanan, menyatakan komitmen untuk memperketat regulasi keselamatan, termasuk inspeksi rutin kapal nelayan dan penyuluhan cuaca laut kepada para pemilik kapal. “Kita tidak boleh menunggu lagi tragedi serupa terjadi. Keselamatan nelayan adalah prioritas utama,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bengkulu.
Penutup
Dengan ditemukannya jasad Ujang Kidik, operasi SAR resmi dinyatakan selesai. Namun, peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa perubahan iklim dan cuaca ekstrem dapat mengancam kehidupan para pekerja laut. Diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga SAR, dan komunitas nelayan untuk memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan standar keselamatan kapal, dan memastikan kesiapan menghadapi bencana alam di masa depan.
