Keuangan.id – 20 April 2026 | Pertamina menyatakan kebingungan atas fenomena antrean SPBU yang mengular di wilayah Sulawesi Selatan Barat (Sulselbar), padahal pasokan bahan bakar minyak (BBM) dilaporkan meningkat hingga dua ratus persen dibandingkan rata‑rata harian. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai perilaku konsumen dan dampak kebijakan harga BBM nonsubsidi.
Situasi serupa juga teramati di Kota Padang, Sumatera Barat, di mana SPBU 14.251.522 di Jalan Dr. Sutomo mengalami lonjakan antrian kendaraan solar yang meluas ke luar area pompa. Menurut operator SPBU, Sastia, peningkatan antrean terjadi dalam dua hari terakhir setelah harga Dexlite naik drastis dari sekitar Rp 14.800 per liter menjadi Rp 24.650 per liter. Kenaikan harga tersebut memaksa banyak pemilik kendaraan diesel pribadi, terutama model Kijang Innova, beralih ke biosolar yang lebih terjangkau.
Faktor Harga dan Perubahan Pola Konsumsi
Kenaikan harga BBM nonsubsidi, termasuk Dexlite dan Pertamax Turbo, menjadi pemicu utama pergeseran pola konsumsi. Di Padang, pasokan biosolar biasanya mencapai 16 kiloliter (KL) per hari, namun pada hari kejadian hanya 8 KL yang tiba, mengakibatkan stok menipis setengahnya dalam hitungan jam. Meskipun pasokan terbatas, antrean tetap mengular karena konsumen mencari alternatif yang lebih murah.
Di Sulselbar, meski Pertamina melaporkan peningkatan stok BBM hingga 200 %, konsumen tetap berbondong‑borong ke SPBU. Data internal menunjukkan bahwa penambahan stok sebagian besar berupa premium dan pertamax, sementara permintaan untuk diesel dan biosolar tetap tinggi. Hal ini menandakan bahwa kenaikan stok tidak serta‑merta mengurangi tekanan pada jaringan distribusi.
Strategi Pertamina dalam Menghadapi Lonjakan Antrean
Pertamina telah mengambil beberapa langkah proaktif. Pertama, meningkatkan frekuensi pengiriman ke SPBU yang melaporkan antrean panjang, dengan menambah armada truk tanker pada jam sibuk. Kedua, melakukan koordinasi dengan otoritas daerah untuk mengoptimalkan alur lalu lintas di sekitar pompa, termasuk penempatan petugas lalu lintas sementara. Ketiga, meluncurkan program edukasi digital melalui aplikasi MyPertamina, yang memberi informasi real‑time tentang harga, ketersediaan stok, dan lokasi SPBU terdekat dengan kapasitas tinggi.
Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mengatasi masalah. Analisis awal menunjukkan bahwa konsumen lebih responsif terhadap perubahan harga daripada ketersediaan stok. Saat harga diesel dan biosolar tetap stabil atau lebih murah dibandingkan bensin premium, kendaraan diesel pribadi cenderung memilih bahan bakar tersebut meski harus menunggu lebih lama.
Respons Konsumen dan Implikasi Ekonomi
Konsumen di kedua wilayah menunjukkan pola perilaku yang serupa: mencari nilai ekonomis dalam penggunaan BBM. Di Padang, penurunan penjualan Dexlite hampir mencapai 90 % setelah kenaikan harga, sementara penjualan biosolar melonjak. Di Sulselbar, meski stok premium meningkat, banyak pemilik kendaraan komersial dan pribadi tetap mengisi diesel, yang menjadi komoditas paling diminati.
Fenomena ini memiliki implikasi ekonomi makro. Lonjakan antrean menandakan tekanan pada infrastruktur distribusi, yang dapat meningkatkan biaya operasional bagi Pertamina. Selain itu, pergeseran konsumen ke bahan bakar yang lebih murah dapat memengaruhi pendapatan subsidi dan kebijakan harga di masa depan.
Langkah Kebijakan yang Diperlukan
Pengamat pasar energi menyarankan beberapa langkah kebijakan untuk menstabilkan situasi. Pertama, penyesuaian harga secara bertahap untuk menghindari lonjakan permintaan mendadak. Kedua, peningkatan kapasitas penyimpanan di SPBU strategis, khususnya di daerah dengan permintaan tinggi. Ketiga, pengembangan alternatif energi, seperti bahan bakar nabati (biofuel), yang dapat mengurangi ketergantungan pada BBM fosil.
Dengan mengintegrasikan data lapangan dari Padang dan Sulselbar, Pertamina diharapkan dapat merumuskan strategi yang lebih adaptif, mengoptimalkan distribusi, serta menjaga kepuasan konsumen tanpa mengorbankan stabilitas pasar energi nasional.
Secara keseluruhan, fenomena antrean SPBU yang mengular meski stok BBM ditambah signifikan menegaskan pentingnya sinergi antara kebijakan harga, manajemen pasokan, dan edukasi konsumen. Hanya dengan pendekatan holistik, Pertamina dapat mengatasi tantangan ini dan memastikan kelancaran distribusi BBM di seluruh Indonesia.
