Keuangan.id – 12 Mei 2026 | Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia setelah Jepang memutuskan untuk melepas cadangan minyak 20 hari senilai Rp 58 triliun per 1 Mei. Keputusan ini diambil sebagai antisipasi atas ketegangan di Selat Hormuz yang dapat mempengaruhi pasokan minyak dunia.
Ketegangan di Selat Hormuz memang telah meningkat sejak Februari lalu, ketika Iran menutup selat tersebut bagi kapal-kapal "musuh". Amerika Serikat kemudian membalas dengan mengepung pelabuhan dan terminal minyak Iran demi memotong pendapatan rezim Teheran.
Situasi ini telah menciptakan "blokade ganda", di mana dua pihak yang bertikai secara simultan menerapkan blokade laut yang saling berlawanan di teater yang sama. Iran menggunakan kontrol geografis atas pintu sempit Teluk sebagai senjata ekonomi global, sementara Amerika Serikat berusaha memotong pendapatan rezim Teheran dengan mengepung pelabuhan dan terminal minyak.
Strategi Amerika Serikat pun bergeser, dari operasi dekapitasi udara intensif menjadi pendekatan tidak langsung. Amerika Serikat memilih menekan Iran dari luar melalui Armada ke-5, dengan tujuan utama memaksa Teheran menyimpan minyak hingga sumur-sumurnya terpaksa ditutup permanen.
<p<Iran membalas dengan menyita kapal Ocean Koi, mengaktifkan tanker tua sebagai penyimpanan terapung, dan membuka jalur kereta api darat lewat China dengan ongkos hampir 7.000 dolar AS per container. Ini merupakan ironi terdalam blokade ganda, di mana yang terkurung bukan hanya Iran, melainkan juga pengepungnya.
Sekitar 1.500 kapal komersial dan 20.000 awak terjebak di Teluk, termasuk seperlima pasokan migas dunia. Setiap putaran tekanan memperdalam luka bagi pihak yang menekan. Filsafat kuno tentang Pyrrhic victory pun hidup kembali di abad ke-21, bahwa menang dengan cara kehilangan terlalu banyak adalah kekalahan yang ditunda.
Di Washington, kelelahan itu mulai tampak. Harga bensin rata-rata di AS menembus 4,39 dolar per galon, jajak pendapat Partai Republik anjlok, dan pemilihan paruh waktu tinggal kurang dari enam bulan. Senator Jack Reed mencatat sang Presiden kini "kelabakan" mencari pintu keluar dari perang yang ia mulai sendiri.
Kesimpulan dari situasi ini adalah bahwa ketegangan di Selat Hormuz telah menciptakan situasi yang sangat kompleks dan berpotensi berdampak besar pada pasokan minyak dunia. Jepang telah mengambil langkah antisipasi dengan melepas cadangan minyak 20 hari, namun masih belum jelas bagaimana situasi ini akan berkembang di masa depan.
