Keuangan.id – 30 Maret 2026 | Para analis pasar logam industri memperkirakan bahwa harga tembaga dan nikel berpotensi mengalami kenaikan setelah ketegangan di kawasan Timur Tengah mereda. Penurunan intensitas konflik diprediksi akan mengembalikan sentimen risk‑on di kalangan investor, yang cenderung mengalihkan dana ke aset‑aset komoditas yang dipandang sebagai penopang pertumbuhan ekonomi.
Berikut beberapa faktor utama yang mendasari proyeksi tersebut:
- Pengurangan risiko geopolitik: Ketegangan di Timur Tengah selama beberapa bulan terakhir menahan aliran modal ke pasar berisiko tinggi. Seiring situasi mereda, investor biasanya meningkatkan eksposur ke logam industri seperti tembaga dan nikel.
- Permintaan industri yang kuat: Sektor‑sektor seperti energi terbarukan, kendaraan listrik, dan konstruksi tetap memerlukan tembaga dan nikel dalam jumlah besar. Permintaan ini diperkirakan akan terus meningkat meski pertumbuhan ekonomi global melambat.
- Penyediaan yang terbatas: Beberapa proyek pertambangan utama mengalami penundaan atau penutupan sementara karena kondisi geopolitik, sehingga pasokan jangka pendek dapat menjadi ketat.
Data harga terkini menunjukkan bahwa tembaga diperdagangkan di kisaran US$9.300 per ton, sedangkan nikel berada di sekitar US$19.500 per ton. Analis memperkirakan kenaikan 3‑5% dalam jangka tiga hingga enam bulan ke depan, asalkan tidak ada eskalasi konflik baru.
Investor institusional dan dana hedge fund telah mulai meningkatkan posisi mereka di logam tersebut, mencerminkan keyakinan bahwa pemulihan ekonomi global akan memperkuat permintaan bahan baku. Namun, mereka tetap memperhatikan faktor‑faktor eksternal seperti kebijakan moneter bank sentral dan fluktuasi nilai tukar dolar AS.
Secara keseluruhan, prospek tembaga dan nikel tampak positif bila konflik di Timur Tengah berangsur reda, dengan dukungan kuat dari sentimen pasar yang beralih ke aset‑aset berisiko lebih tinggi.
