Analis Elev8: Dua Risiko Utama Bayangi Ekonomi China, ASEAN Harus Waspadai Imbasnya

Analis Elev8: Dua Risiko Utama Bayangi Ekonomi China, ASEAN Harus Waspadai Imbasnya
Analis Elev8: Dua Risiko Utama Bayangi Ekonomi China, ASEAN Harus Waspadai Imbasnya

Keuangan.id – 11 Maret 2026 | Pertumbuhan ekonomi China terus menjadi faktor penentu bagi negara‑negara ASEAN. Karena tingkat ketergantungan perdagangan yang tinggi, perubahan kondisi ekonomi di negara terbesar dunia ini dapat menimbulkan goncangan signifikan bagi kawasan.

  • Krisis properti dan kelebihan kapasitas industri China menjadi dua risiko utama yang diproyeksikan dapat menekan ekonomi ASEAN pada tahun 2026.
  • Ekspor ASEAN ke China menyumbang sekitar 15–20 % total ekspor, sementara impor dari China mencakup 20–35 % dari total impor.
  • Ketegangan dagang antara China dan Amerika Serikat serta perlambatan ekonomi global dapat memperburuk tekanan pada industri dan nilai tukar negara‑negara ASEAN.

Krisis Properti China Tekan Permintaan

Pasar properti yang dulu menjadi pendorong utama pertumbuhan domestik China kini mengalami koreksi tajam. Pada pertengahan 2025, harga properti turun drastis akibat tingginya persediaan dan kekhawatiran akan gagal bayar. Beberapa pengembang besar, termasuk Vanke, mencari perpanjangan obligasi, menurunkan kepercayaan konsumen. Penurunan permintaan domestik berpotensi mengurangi impor barang‑barang ASEAN, sehingga menurunkan pendapatan ekspor kawasan.

Overkapasitas Industri China Tekan Manufaktur ASEAN

Produksi berlebih di sektor manufaktur China menimbulkan persaingan harga yang keras bagi produk‑produk regional. Menurut data, overkapasitas produksi menggerus margin manufaktur di Asia Tenggara dan menekan belanja modal. Di Indonesia, pemutusan hubungan kerja di sektor industri dan ritel mencapai sekitar 42.000 orang pada akhir 2025, naik 32 % dibandingkan tahun sebelumnya, sebagian disebabkan oleh tekanan kompetitif dari produk China yang murah. Di Thailand, harga mobil turun, sementara di Vietnam, harga ponsel pintar meluncur akibat deflasi impor dari China.

Selain itu, investasi di sektor non‑teknologi masih lemah karena perkiraan pertumbuhan volume perdagangan global melambat drastis dari 2,4 % pada 2025 menjadi hanya 0,5 % pada 2026. Kombinasi faktor‑faktor tersebut menuntut ASEAN untuk meningkatkan diversifikasi pasar, memperkuat nilai tukar, dan mempercepat transformasi ekonomi agar dapat mengatasi risiko yang datang dari ketergantungan pada China.

Exit mobile version