Keuangan.id – 13 Maret 2026 | Amar Bank, salah satu bank digital terkemuka di Indonesia, menegaskan komitmennya untuk mempertahankan tingkat Non-Performing Loan (NPL) pada kisaran 1% selama tahun 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang bank untuk meningkatkan kualitas portofolio kredit sekaligus mendukung pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dalam rapat strategi tahunan, manajemen Amar Bank mengungkapkan bahwa pencapaian NPL 1% bukan sekadar target numerik, melainkan hasil dari serangkaian inovasi teknologi dan kebijakan kredit yang lebih ketat. Bank ini memanfaatkan algoritma berbasis kecerdasan buatan untuk menilai kelayakan peminjam secara real‑time, mempercepat proses persetujuan, dan meminimalkan risiko gagal bayar.
Berikut ini beberapa langkah kunci yang diimplementasikan oleh Amar Bank:
- Analisis data alternatif: Penggunaan data transaksi digital, riwayat pembayaran utilitas, dan perilaku online untuk menilai kredit tanpa mengandalkan agunan konvensional.
- Skor kredit dinamis: Penyesuaian skor kredit secara berkala berdasarkan perilaku pembayaran terbaru, memungkinkan penyesuaian limit yang responsif.
- Pengawasan portofolio berbasis AI: Sistem monitoring otomatis yang mendeteksi tanda‑tanda awal potensi kredit macet, sehingga tim penagihan dapat melakukan intervensi dini.
- Pembiayaan UMKM tersegmentasi: Produk pinjaman khusus yang disesuaikan dengan siklus kas usaha kecil, termasuk opsi penjadwalan ulang tenor yang fleksibel.
Hasil implementasi kebijakan tersebut terlihat pada tren NPL Amar Bank dalam tiga tahun terakhir:
| Tahun | Persentase NPL |
|---|---|
| 2023 | 1,2% |
| 2024 | 1,1% |
| 2025 | 1,0% |
| Target 2026 | ≈1,0% |
Dengan menargetkan NPL tetap di sekitar 1%, Amar Bank berharap dapat memperkuat kepercayaan investor dan regulator, sekaligus meningkatkan daya saing dalam pasar kredit digital yang semakin kompetitif. Selain itu, stabilitas NPL diperkirakan akan memberikan ruang bagi bank untuk menyalurkan lebih banyak pembiayaan kepada UMKM, sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.
Para analis industri menilai bahwa pendekatan berbasis teknologi ini dapat menjadi model bagi lembaga keuangan lain yang ingin menurunkan rasio kredit macet tanpa mengorbankan pertumbuhan. Jika berhasil, Amar Bank tidak hanya akan mempertahankan performa keuangan yang solid, tetapi juga berkontribusi pada inklusi keuangan nasional.
