Keuangan.id – 08 April 2026 | Desa Namang, sebuah desa kecil yang terletak di perbatasan provinsi Lampung, kini menjadi sorotan dunia perfilman setelah sutradara muda Alwan Nabil berhasil mengangkat legenda urban Belitung menjadi sebuah produksi film horor yang menjanjikan. Film berjudul The Bell: Panggilan untuk Mati yang diproduksi bersama Sinemata Buana Kreasindo dan MBK Productions, menampilkan sosok hantu Penebok, makhluk tanpa kepala yang selama ini hanya dikenal dalam cerita rakyat setempat.
Trailer pertama menggebrak media sosial
Pada 8 April 2026, tim redaksi Kompas.com melaporkan peluncuran trailer pertama yang berdurasi dua menit. Trailer menampilkan adegan-adegan menegangkan di mana Penebok muncul dalam balutan jubah merah, mengancam penduduk desa dengan dentingan lonceng yang menjadi pertanda kematian. Potongan gambar tersebut langsung menjadi viral, menimbulkan perbincangan hangat di platform digital dan menambah antusiasme penonton terhadap film yang dijadwalkan tayang pada 7 Mei 2026.
Alwan Nabil: Dari desa ke dunia
Alwan Nabil, lahir dan besar di Desa Namang, menapaki kariernya sebagai pembuat konten video sebelum memutuskan terjun ke dunia perfilman. Pada tahun 2023, ia bersama saudara kembarnya, Denny (Nabil Lungdana), memulai proyek dokumenter tentang legenda lokal, yang kemudian berkembang menjadi naskah film horor. “Saya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa cerita-cerita tradisional Indonesia memiliki daya tarik universal,” ujar Alwan dalam sebuah wawancara eksklusif.
Keberhasilan trailer tersebut tidak lepas dari strategi pemasaran yang mengandalkan media sosial, kolaborasi dengan influencer, serta penayangan eksklusif di beberapa festival film regional. Alwan menyebut bahwa dukungan pemerintah daerah dalam bentuk fasilitas lokasi syuting di Belitung menjadi faktor penting dalam menciptakan atmosfer otentik.
Plot film menggabungkan mitos dan realitas
Film ini mengisahkan sekumpulan YouTuber yang mencuri sebuah lonceng keramat untuk konten mereka. Loncen tersebut, menurut kepercayaan setempat, tidak boleh dibunyikan setelah pukul 18.00 WIB karena diyakini akan membangkitkan roh jahat. Ketika lonceng dibunyikan, Penebok terlepas dari ikatan mistiknya dan mulai menghantui desa, menuntut kepala korban sebagai ganti. Konflik antara modernitas digital dan kepercayaan tradisional menjadi benang merah yang mengikat cerita.
- Produser eksekutif Budi Yulianto menegaskan bahwa Penebok bukan sekadar mitos, melainkan pelajaran moral bagi generasi muda.
- Sutradara Jay Sukmo menambahkan bahwa efek visual dalam film dibuat dengan teknologi CGI terkini, tanpa mengorbankan keaslian budaya.
- Penonton di seluruh Indonesia akan dapat menyaksikan film ini secara serentak di lebih dari 500 bioskop pada tanggal rilis.
Ambisi internasional
Setelah penayangan domestik, Alwan Nabil menargetkan festival film internasional seperti Cannes, Toronto, dan Busan. “Kami sudah mengirimkan versi subtitel bahasa Inggris dan Mandarin ke beberapa kurator festival. Harapannya, film ini tidak hanya menjadi hiburan, melainkan jendela budaya bagi penonton luar negeri,” jelas Alwan.
Keberhasilan The Bell juga diharapkan dapat membuka peluang kerja bagi talenta lokal, termasuk penulis naskah, penata suara, dan desainer kostum yang berasal dari wilayah Lampung dan sekitarnya.
Dengan mengangkat kisah Penebok, Alwan Nabil tidak hanya memperkenalkan legenda Belitung ke panggung nasional, tetapi juga menempatkan Indonesia pada peta sinema horor internasional. Film ini menjadi bukti nyata bahwa kreativitas dari desa kecil dapat bersaing di industri global asalkan didukung oleh keberanian, riset mendalam, dan kolaborasi lintas sektor.
Ke depan, Alwan berencana meluncurkan seri spin‑off yang mengeksplorasi legenda lain dari kepulauan Indonesia, mengukuhkan posisinya sebagai pionir dalam mempopulerkan warisan budaya melalui medium film.
