Keuangan.id – 18 April 2026 | Perang yang melibatkan Iran telah memasuki hari ke-50, menimbulkan gangguan signifikan pada pasar minyak dunia. Menurut data yang dikumpulkan, konflik tersebut mengakibatkan hilangnya sekitar 500 juta barel minyak, setara dengan nilai sekitar USD50 miliar.
Penurunan produksi dan distribusi ini menimbulkan tekanan pada pasokan global, memicu fluktuasi harga, serta memberikan dampak luas pada ekonomi negara‑negara pengimpor dan eksportir minyak.
- Pasokan global berkurang sekitar 1,5% dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya.
- Harga Brent naik lebih dari 8% dalam dua minggu terakhir.
- Negara‑negara di Timur Tengah dan Asia mengalami peningkatan biaya impor energi.
- Indeks saham energi di bursa utama mengalami penurunan rata‑rata 4%.
Berikut perkiraan kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh gangguan pasokan tersebut:
| Komponen | Estimasi Kerugian |
|---|---|
| Volume minyak terhilang | 500 juta barel |
| Nilai moneter | USD 50 miliar |
| Penurunan pendapatan ekspor negara produsen | USD 12‑15 miliar |
| Peningkatan biaya impor bagi negara konsumen | USD 8‑10 miliar |
Pengamat pasar memperingatkan bahwa konflik yang berlarut‑lajut dapat memperpanjang ketidakstabilan harga minyak, memaksa bank sentral untuk menyesuaikan kebijakan moneter, dan meningkatkan tekanan inflasi di negara‑negara yang sangat bergantung pada energi impor.
Untuk mengurangi dampak, beberapa negara mulai mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperkuat cadangan strategis minyak. Namun, proses transisi ini memerlukan waktu dan investasi signifikan.
