Keuangan.id – 04 April 2026 | Gresik, Jawa Timur – Pada Senin (2 April 2024) dua siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di sebuah wilayah pinggiran Gresik menjadi korban tembakan yang diduga merupakan peluru nyasar dari satuan Marinir TNI Angkatan Laut. Insiden ini memicu gelombang keprihatinan publik, menimbulkan tuntutan ganti rugi sebesar Rp1,8 miliar, serta seruan bantuan politik dari ibu korban kepada Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Prabowo Subianto.
Rangkaian Kronologi Insiden
Menurut laporan saksi mata, kejadian terjadi sekitar pukul 08.30 WIB ketika kedua siswa sedang berada di area parkir sekolah untuk menunggu bus pulang. Tiba-tiba terdengar suara tembakan keras diikuti oleh dentuman, dan dua siswa tersebut terjatuh dengan luka tembak di bagian dada dan lengan. Tim medis sekolah segera memberikan pertolongan pertama sebelum siswa-siswa tersebut dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Setelah dilakukan identifikasi awal, pihak kepolisian menutup kasus sebagai peluru nyasar (stray bullet) yang kemungkinan berasal dari latihan tembak di pangkalan militer terdekat. Namun, keterangan saksi menyebutkan bahwa suara tembakan terdengar mirip dengan senapan mesin ringan yang biasanya digunakan oleh unit marinir.
Ibu Korban Menuntut Tanggung Jawab
Ibu seorang korban, yang tidak disebutkan namanya demi menjaga privasi, muncul ke publik dengan mengajukan dua permintaan utama. Pertama, ia menuntut ganti rugi sebesar Rp1,8 miliar untuk menutupi biaya pengobatan jangka panjang, rehabilitasi, dan kompensasi kehilangan pendapatan masa depan bagi kedua anaknya. Kedua, ia meminta perlindungan dan intervensi langsung dari Menteri Prabowo Subianto, menyatakan bahwa “saya butuh bantuan Pak Prabowo, lindungi saya dan keluarga saya dari tekanan yang semakin berat.”
Reaksi TNI Angkatan Laut
Pihak TNI AL melalui kantor hubungannya di Gresik merespons dengan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa “kasus peluru nyasar tidak patut dan tidak adil bila disalahkan sepenuhnya pada TNI tanpa proses penyelidikan yang mendalam.” Mereka menegaskan bahwa semua personel yang terlibat dalam latihan tembak selalu mematuhi prosedur keselamatan, dan insiden ini akan ditelusuri melalui mekanisme internal militer.
Selain itu, TNI AL menolak klaim ganti rugi secara sepihak, mengingat belum ada hasil penyelidikan resmi yang mengonfirmasi keterlibatan mereka secara langsung. Pihak militer juga menambah bahwa mereka bersedia bekerja sama dengan aparat kepolisian dalam proses hukum selanjutnya.
Langkah Hukum dan Penanganan Kesehatan
Polisi setempat telah membuka penyelidikan formal dengan nomor kasus 2024/GP/0189. Tim penyidik melakukan pemetaan wilayah tembak, mengumpulkan rekaman CCTV dari sekitar sekolah, serta menelusuri jejak logistik amunisi militer. Hingga kini, belum ada hasil definitif mengenai unit atau personel yang menembakkan peluru tersebut.
Di sisi medis, kedua siswa kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Salah satu siswa mengalami luka baku serius pada dada, sementara yang lainnya mengalami luka tembak pada lengan kanan. Dokter menyatakan bahwa pemulihan total diperkirakan memakan waktu antara enam bulan hingga satu tahun, tergantung pada komplikasi yang mungkin muncul.
Reaksi Masyarakat dan Media Sosial
- Beragam warganet menuntut transparansi penuh dari TNI dan kepolisian.
- Kelompok hak asasi manusia (HAM) mengingatkan pentingnya akuntabilitas militer dalam kejadian serupa.
- Beberapa tokoh politik lokal mengusulkan pembentukan komisi khusus untuk meninjau prosedur latihan tembak di daerah perkotaan.
Media sosial dipenuhi dengan hashtag #PeluruNyasarGresik, #KompensasiKorban, dan #BantuanPrabowo yang terus meningkat dalam hitungan jam setelah insiden.
Permintaan Bantuan Politik
Ibu korban menulis surat terbuka yang disebarkan melalui jaringan media sosial, memohon agar Menteri Prabowo Subianto memberikan perlindungan hukum dan memastikan proses ganti rugi berjalan adil. Ia menekankan bahwa tekanan psikologis dan ancaman intimidasi dari pihak tak dikenal membuatnya merasa rentan tanpa dukungan politik.
Sejauh ini, belum ada respons resmi dari kantor Prabowo, namun para analis politik memperkirakan bahwa kasus ini dapat menjadi isu sensitif menjelang pemilihan umum mendatang, mengingat keterlibatan militer dan tuntutan keadilan sosial.
Kasus peluru nyasar di Gresik kini menjadi sorotan utama, menguji sejauh mana institusi keamanan dan pemerintah dapat menyeimbangkan antara kepentingan pertahanan dan perlindungan warga sipil. Penyelidikan masih berlangsung, dan hasil akhir akan menentukan langkah selanjutnya bagi korban, keluarga, serta kebijakan keamanan di wilayah tersebut.











